Liga Mercy, Pertandingan Derby Demokrat AHY Vs Demokrat Moeldoko

oleh -
prahara, demokrat, ahy, vs, moeldoko, klb, deli serdang, kemenkumham
Prahara Demokrat, AHY VS Moeldoko. Ilustrasi/Dok R24-Ozi

Sekarang Partai Demokrat kembar jadi dua, versi Kongres 2020 dengan ketua partai  Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan versi Kongres “Kudeta” Deli Serdang, Sumatra Utara, yang menjadikan Moeldoko ketua partai.

“Bola panas” pun kini bergulir ke Kementerian Hukum dan HAM, sama-sama ingin mendapat pengakuan dari pemerintah. Kubu AHY membawa setumpuk berkas sebagai bukti kepengurusan partai yang sah, sementara Moeldoko minta “stempel basah” biar jadi sah.

Kisruh di partai berlambang mercy itu memang seperti gempa, tiba-tiba dan menyentak seisi negeri. Istana pun dituding kubu AHY terlibat, dan telunjuknya langsung mengarah ke hidung Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

Moeldoko saat itu menepis tuduhan, dan mengatakan bahwa yang kerap datang bertamu kepadanya hanyalah orang-orang yang curhat sambil ngopi-ngopi saja.

Mantan Panglima TNI itu beralasan wajar, jika saja banyak yang bertamu, toh dia tidak membatasi diri dengan siapapun yang ingin “ngobrol” dengannya.

Moeldoko tidak menampik kalau diantara tamunya itu ada yang curhat terkait kondisi di tubuh Partai Demokrat.

“Mereka curhat situasi yang dihadapi, ya saya dengerin aja. Berikutnya ya udah dengerin aja. Saya sebenarnya prihatin gitu ya dengan situasi itu, karena saya juga bagian yang mencintai Demokrat,” ujar Moeldoko saat itu.

 

Pertandingan derby Demokrat

Serunya, perebutan kekuasaan di partai gambar mercy itu menyuguhkan “permainan” politik tingkat elit. Ini menarik layaknya Liga Inggris derby antara Manchester City kontra Manchester United, atau el clasico Madrid Vs Barca di La Liga.

Serangan kubu AHY bertubi-tubi ke Moeldoko bisa jadi membuat Sang Jenderal kepalang basah, untuk melakukan serangan balik ke wilayah pertahanan Sang Mayor.

Sejak AHY mengungkap apa yang menurutnya ada gerakan pengambilalihan paksa kepemimpinan Partai Demokrat pada 1 Februari lalu, hanya dalam tempo satu bulan saja, Moldoko terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat dalam kongres yang luar biasa di Deli Serdang, Sumatra Utara, pada 5 Maret lalu.

Dengan terpilihnya Moeldoko, “Maka Agus Harimurti Yudhoyono dinyatakan demisioner,” kata Jhoni Allen, Pimpinan Sidang Kongres Deli Serdang, saat itu.

Moeldoko pun menerima mandat tersebut, walau sebelumnya dia memastikan tiga hal kepada peserta kongres.

Pertama, memastikan kongres Deli Serdang sesuai dengan AD/ART Partai Demokrat.

Kedua, Moeldoko menanyakan keseriusan kader Partai Demokrat memilih dirinya menjadi ketua umum, dan terakhir dia menanyakan sejauh mana keseriusan kader Demokrat untuk bekerja penuh integritas.

Dan sejak itu, derby Demokrat AHY kontra Demokrat Moeldoko pun dimulai.

AHY langsung menyorot bahwa Kongres Deli Serdang abal-abal, Ilegal dan inkonstitusional, bertentangan dengan AD/ART Partai Demokrat.

AHY bergerak cepat menyortir pasukannya di daerah, siapa yang membelot langsung dicomot dan dibuang dari kubunya.

Langkah hukum pun diambil, kubu Demokrat AHY menggugat mereka yang terlibat Kongres Deli Serdang ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jumat (12/3/2021), lantaran dianggap melanggar peraturan perundang-undangan terkait partai politik (Parpol).

Salah satu menjadi landasan gugatan AHY adalah Pasal 26, UU Nomor 2 tahun 2011 tentang Parpol.

Pasal itu menyebut, bahwa kader yang telah diberhentikan atau dipecat tidak dapat membentuk kepengurusan ataupun membentuk partai politik lagi yang sama dengan yang mereka dipecat.

Sementara kubu Moeldoko langsung tancap gas, menyiapkan segala berkas pemilihannya untuk di bawa ke Kemeterian Hukum dan HAM biar cepat sah.

Serangan balik dilontarkan kubu Moeldoko, mereka menyebut-nyebut justru AD/ART yang digunakan dalam Kongres V Partai Demokrat 2020 adalah anggaran dasar abal-abal.

Kubu Moeldoko beralasan, anggaran dasar 2020 dikarang di luar Kongres Partai Demokrat tanpa persetujuan anggota partai.

Pertandingan derby Demokrat AHY lawan Demokrat Moeldoko di Liga Mercy nampaknya akan terus berlanjut dan semakin seru saja.

Mereka sekarang saling serang “menguliti” borok dan kelemahan masing-masing lawan.

 

Dukungan suporter

Suporter masing-masing tim di Liga Mercy itu tengah mengikuti jalannya pertandingan di pinggir lapangan, mereka pastinya tak henti-henti menyemangati dengan teriakan yel-yel masing-masing kubu.

Dalam dunia sepak bola, dukungan suporter sangat penting, mereka biasa disebut pemain ke-12 berpengaruh menentukan kemenangan tim.

Contoh quote suporter agar tim andalannya menang pertandingan, “Jika ingin menjadi juara, kamu harus rela membayar dengan perjuangan”

“Bila kegagalan bagai hujan, maka keberhasilan adalah pelangi” ini ucapan suporter jika tim favoritnya kalah laga.

Nah, kalau yang ini “Kami haus gol kamu. Satu niat, satu tekat, satu semangat” quote suporter jika tim favoritnya tak kunjung menang.

Namanya juga pertandingan, tak luput adanya komentator, hal sama terjadi pada derby Demokrat AHY Vs Demokrat Moeldoko. Lumrahnya, laga sekelas Liga Mercy ini pasti menyita perhatian publik, terutama dari para pakar politik.

Biar pertandingan berlangsung fairness ada komentator menyarankan agar Moldoko memilih antara KSP dan Ketua Umum Partai Demorat.

Kalau ingin tetap di KSP jadi pembantu Presiden Jokowi, ya lepaskan jabatan ketua umum partainya. Sebaliknya kalau keukeuh ingin jadi ketua partai, ya lepaskan jabatan KSP-nya.

Kalau sudah begitu, lalu bagaimana ujung dari pertandingan derby Liga Mercy ini. Ada yang menyebut mungkin saja bisa muncul Partai Demokrat baru dengan embel-embel “Perjuangan” di belakangaya.

Seperti ketika PDI Megawati hasil Kongres 1993 kontra PDI Suryadi hasil Kongres Medan 1996 zaman Orba dulu.

Atau seperti Tukul Arwana, cukup hanya menambah kata “Bukan” di depan, saat mengganti talkshow “Empat Mata” lantaran tersandung urusan dengan KPI tahun 2008 lalu.

Yang pasti publik berharap prahara Partai Demokrat bisa cepat selesai, lantaran pertandingan derby Liga Mercy itu telah menguras energi bangsa.

Sekarang rakyat sedang dalam kesusahan, mereka hanya ingin tahu, besok masih bisa makan atau tidak. Karena sudah setahun lamanya ekonomi terhimpit lantaran COVID.(*)

Oleh Endang JP, Pimred Redaksi24.Com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.