Lewat Webinar,  Sejumlah Tokoh di Kota Serang Gelorakan Nasionalisme

  • Whatsapp
nasionalisme kota serang
Sejumlah tokoh bicara nasionalisme melalui seminar web di Kota Serang.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Kota Serang, Banten menyebut, nasionalisme di Indonesia kian terkikis akibat derasnya ideologi impor dari berbagai Negara di dunia.

Ketua Repdem Kota Serang, Dimas Pradipta mengatakan, sebagai salah satu elemen bangsa, pihaknya merasa bertanggungjawab untuk memantik kembali rasa nasionalisme tersebut.

Bacaan Lainnya

“Bukan sekali dua kali kita mendengar, orang menyebut Pancasila adalah thogut, musuh Islam. Ini adalah upaya untuk membenturkan Islam dengan Pancasila,” katanya usai Seminar melalui Web atau Webinar dengan materi Islam, Pancasila, dan Nasionalisme, Senin, (3/8/2020) malam.

Maka dari itu, sambung Dimas, pihaknya mengundang para nara sumber yang kompeten dari kalangan kyai dan juga akademisi untuk membahas nasionalisme.

“Supaya masyarakat di Indonesia, khususnya Kota Serang menjadi mengerti keterkaitan Islam, Pancasila dan Nasionalisme,” imbuhnya.

BACA JUGA: Soal Kapal Hibah Menhub, Wali Kota Serang Tidak Mau Disalahkan

Sementara itu, Ketua Bidang Politik Repdem Kota Serang, De Sucitra mengungkapkan, dalam seminar banyak hal menarik diungkapkan para narasumber. Terutama, kata dia, peran para ulama dalam menyusun Pancasila.

“Para narasumber sepakat Pancasila adalah praktik amaliah nilai-nilai Islam, terkait habluminannas,” ungkapnya.

Peneliti atau Akademisi Universitas Paramadina, Subhi Ibrahim menjelaskan, perlu mengurai konsep pembentukan sejarah ketika ada pertanyaan siapa bangsa Indonesia itu? Pada awalnya, kata dia, Indonesia hanya mengenal Nusantara yang banyak sekali keberagaman suku, bahasa dan lain sebagainya.

Dari sisi keberagaman, menurut dia, bisa menciptakan keretakan hubungan antar suku. Namun, menurut Subhi, dari sisi kekayaan, keanekaragaman tersebut bisa menjadi keniscayaan yang kini tumbuh di Indonesia.

Indonesia, kata dia, bukan hanya impor ekonomi. Dalam sejarahnya, nusantara didatangi berbagai ideologi, seperti dari kawasan India dan Timur Tengah. Dari India, didapat ideologi budisme dan dari Timur Tengah masyarakat nusantara mendapatkan ajaran islam. “Ini pola awal yang membentuk Indonesia,” imbuhnya

Pada era impresialisme Belanda, kata Subhi, muncul politik etis dan gerakan itu selalu dimulai melalui ide intelektual. Yang lahir dari politik etis ini, kata dia, kemudian mendorong nasionalisme modern.

“Nasionalisme modern berbeda dengan nasionalisme kuno. Nasionalisme kuno semacam kesukuan sempit yang digunakan untuk mendiskriminasi, model ini bisa melahirkan chauvinosme yang dapat melahirkan Hitler,” ucapnya.

Menurut Subhi, Soekarno ketika bicara nasionalisme dikhawatirkan mengarah ke nasionalisme kesukuan. Namun ternyata, Soekarno menginterpretasikan lebih kepada nasonalisme modern. Yaitu paham tentang hak suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri yang kini dikenal berdikari.

“Nasionalisme konsep dasar untuk melawan impersialisme. Ketika bicara nasionalisme Soekarno mengutif Gandi bahwa nasionalisme adalah kemanusiaan,” paparnya.

Konsep dasar bangsa ini, lanjut Subhi, merupakan konsep abstrak. Yang bisa melahirkan konsep ini tokoh elit bangsa, seperti Soekarno. “Saya sempat membuat riset kecil tentang kata Indoesia, kata Indonesia muncul mendekati kemerdekaan,” sambung Subhi.

BACA JUGA: Di Mediasi KPK, Pemkab Serang Belum Akan Serahkan Pendopo ke Kota Serang

Dikatakan Subhi, kalau dilacak Indonesia tidak akan pernah ditemukan karena konsep ke Indonesiaan merupakan komunitas, yaitu satu bangsa yang memiliki satu kesamaan yang sama-sama dijajah untuk melakukan perlawanan.

“Perekat Indonesia adalah bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Kalau melihat kosa kata dalam bahasa Indoensia cukup beragam dan itu menunjukan keberagamaan yang bisa ditemukan aneka ragam,” ungkapnya.

Lebih jauh Subhi menjelaskan, Indonesia adalah sesuatu yang terus mengalami perubahan. Jadi bukanlah dalam arti benda yang berhenti didefinisikan lalu kemudian tidak mendapatkan pengaruh dan memiliki dinamika.

“Nasionalisme Indonesia yang akan terus terjadi dengan dinamika mendapatkan pengalaman tertentu yang itu kalau rasa nasionalisme bisa ditumbuhkan dalam kontek dinamika cukup bermanfaat untuk menjaga rumah besar NKRI,” tandasnya.

Diketahui, Webinar menghadirkan Ketua Aptisi Wilayah 1 sekaligus Pendiri Ponpes Baitul Hilmi Ciputat, Usman Umar. Peneliti atau Akademisi Universitas Paramadina, Subhi Ibrahim dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia, Faozan Amar.(Adi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.