Legislator Sarankan Pemerintah Ambil Langkah Ekstraordinari Atasi Ancaman Krisis

  • Whatsapp
Guspardi gaus
Anggota Komisi II DPR RI, Guspardi Gaus

JAKARTA,REDAKSI24.COM–Anggota Komisi II DPR RI, Guspardi Gaus menyarankan pemerintah mengambil langkah ekstraordinari atau kebijakan yang luar biasa untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia dari ancaman resesi.

Hal itu diutarakannya terkait kekhawatiran ekonomi Indonesia bergerak ke jurang resesi menyusul laporan Badan Pusat Statistik (BPS)  yang merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II Tahun 2020 mengalami kontraksi atau minus 5,32 persen dibandingkan triwulan II-2019 dan minus -4,19 persen dibanding triwulan I-2020.

Bacaan Lainnya

Atas hal itu, Guspardi Gaus berharap pemerintah dapat segera menempuhlangkah ekstraordinari atau kebijakan luar biasa dalam mendorong ekonomi  agar dapat bertahan di kuartal III dan IV tahun 2020. “Berbagai program penanganan Covid-19 yang terstruktur dan terukur harus segera diaplikasikan  pemerintah demi  memulihkan kepercayaan masyarakat dan rumah tangga untuk melakukan aktivitasnya, termasuk belanja, konsumsi dan investasi,”ujar  politisi PAN ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin.

BACA JUGA:Legislator: Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Kwartal II, Indonesia Secara Teknis Sudah Resesi

Menurutnya, apabila ekonomi pada kuartal III kembali mencatatkan pertumbuhan negatif,  maka kondisi ini semakin membuat Indonesia sulit terlepas dari ancaman jerat resesi. “Karena suatu negara disebut mengalami resesi apabila pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut,” jelas Guspardi.

Dia menilai, belum maksimalnya penanganan pandemi menyebakan rendahnya kepercayaan masyarakat, dunia usaha dan investor terhadap pemerintah dalam memutus laju penyebaran wabah COVID-19. Hal ini, jelas Guspardi Gaus, tergambar dari semakin bertambahnya jumlah kasus positif  setiap harinya.

Hingga 6 Agustus 2020 terdapat 118.753 kasus orang positif dan meninggal dunia 5.521. Artinya ada lebih 44 kasus positif per 100.000 penduduk Indonesia yang berjumlah kurang lebih 269 juta jiwa, kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran  masyarakat, dunia usaha dan investor.

BACA JUGA:Menaker: Pekerja Bakal Mendapatkan Dana Subsidi Upah. Ini Syaratnya!

Tidak sedikit pengusaha yang harus rela berhenti beroperasi beberapa minggu karena ditemukannya kasus terindikasi positif Covid-19 di pabriknya. “Begitupun investor, bagaimana investor dan turis asing mau datang jika mereka mengetahui informasi negatif tentang penanganan Covid-19 di Indonesia,” jelasnya.

Lebih jauh dikatakan, penanggulangan  Covid-19 yang lambat atau tidak sinkron harus segera diperbaiki karena dapat menimbulkan efek yang memperparah kondisi perekonomian nasional. Di sini lain, menurut Guspardi Gaus, sinergi pemangku kebijakan fiskal dan moneter juga harus dapat merumuskan metode untuk menopang perekonomian nasional agar tidak lumpuh.

BACA JUGA:Pimpinan DPR: Pemerintah Harus Lebih Serius Tingkatkan Investasi Sektor Pertanian Untuk Menopang Pertumbuhan

Konsumsi rumah tangga sebagai pendorong ekonomi domestik perlu diintensifkan. “Pemberian stimulus jejaring pengaman sosial untuk mendorong sektor riil dan  tumbuhnya daya beli masyarakat bisa menggerakkan sektor dunia usaha. Kemudian, melokalisasi sektor-sektor bisnis paling elastis yang tidak banyak terintegrasi dengan sistem global seperti sektor UMKM perlu mendapatkan prioritas,” pungkasnya. (Agung/Jaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.