Ketika Warga Miskin Kota Serang Bertahan Hidup Ditengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
dampak covid-19
Yuyun Cahyaningaih mendapat bantuan sembako dari relawan BMC.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Yuli (40), ibu rumah tangga yang tinggal di Lontar Baru, Kota Serang, Banten  ini sudah dua hari tidak makan nasi. Untuk menahan rasa lapar itu, ia bersama keempat anak dan suaminya hanya bisa minum air isi ulang.

Kondisi perekonomian Yuli memang tidak terlalu ada dan sangat pas-pasan. Pendapatan dari suaminya yang bekerja sebagai pemulung barang-barang bekas, masih jauh dari kata cukup untuk menghidupi keempat anaknya, namun Yuli tetap bersyukur.

Bacaan Lainnya

Dalam kondisi normal, setiap harinya suami Yuli bisa mendapat penghasilan dari menjual barang-barang bekas antara Rp25-Rp30 ribu. Uang itu selalu Yuli dahulukan untuk membeli beras, sisanya untuk jajan keempat anak-anaknya.

“Buat beli beras satu liter. Engga saya masak semua, sedikit-sedikit, karena supaya cukup untuk tiga kali makan. Anak saya sering minta nambah, tapi gak ada lagi. Nasi yang dimasak hanya cukup untuk ukuran sekali makan kami berenam,” cerita Yuli, Jumat (17/4/2020).

Kondisi perekonomian Yuli sebelumnya sempat tertolong oleh anak sulungnya yang bekerja di sebuah perusahaan. Namun sejak wabah Pandemi Covid-19 ini melanda Provinsi Banten, pihak perusahaan merumahkan seluruh pegawainya. Gaji di bulan terakhir pun tidak diberikan. Penurunan penghasilan juga dirasakan oleh suaminya. Bahkan, beberapa hari terakhir tidak ada penghasilan yang didapat.

“Anak saya yang baru tujuh bulan juga sering nangis. Mungkin ASI saya kurang atau tidak keluar karena tidak ada makanan yang saya makan. Lapor ke RT juga udah saya lakukan, tapi tidak ada solusi, karena pak RT juga sama sedang susah,” cerita Yuli.

Kondisi yang sama juga dirasakan oleh Yuyun Cahyaningsih (40). Wanita yang tinggal di Penancangan, Kota Serang bersama kedua anaknya dan suaminya ini mengaku sudah dua minggu puasa. Meski ketika berbuka hanya air putih dan nasi putih yang bisa Yuyun sekeluarga makan, namun setidaknya bisa bertahan ditengah kondisi seperti ini.

Yuyun tinggal di rumah kakek dari suaminya. Rumah yang ia tempati ini sebenarnya hanya tinggal menunggu pembeli, setelah ada pembeli ia bersama keluarganya akan pindah. Suami Yuyun pekerja buruh lepas. Namun karena kondisinya kini sering sakit-sakitan, akhirnya ia lebih sering di rumah. Untuk itu Yuyun bekerja menjadi buruh setrika dan berjualan rempeyek yang ia ambil dari rekannya.

Namun kini semuanya menjadi susah. Sejak pemerintah menghimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar rumah karena wabah Covid-19 ini, Yuyun sebagai tulang punggung penghasilan keluarga tak lagi bisa bekerja.

“Saya bingung mau minta tolong ke siapa. Ke tetangga juga tidak ada yang mau bantu, karena kondisinya sedang sama-sama susah. Belum lagi kebutuhan pulsa internet untuk belajar dan bimbel online anak saya yang pertama yang duduk di kelas enam SD. Pokoknya sekarang serba susah,” keluh Yuyun.

Cerita berbeda dialami oleh Hasan (20) dan Pinka. Pasangan muda asal Curug, Kota Serang ini baru dikaruniakan anak pertama yang baru berusia empat bulan. Sebagai kepala keluarga, Hasan harus bekerja keras, apalagi ia baru saja mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena tempatnya ia bekerja tidak lagi mampu menggaji karyawan. Hasan semula bekerja di konveksi di daerah Jagakarsa, Depok, Jawa Barat.

Di tengah Pandemi ini, Hasan mencoba mencari peruntungan mencari lowongan kerja. Namun apa yang ia dapatkan tidak sesuai dengan impian. Tidak ada perusahaan yang mau menerima Hasan bekerja.

“Semua perusahaan yang saya datengin, ngakunya sama sedang sulit. Jadi tidak menerima karyawan baru. Sekarang saya lagi nyoba usaha jualan kopi sama es,” cerita Hasan.

Saat ini Hasan dan Pinka tinggal di rumah orangtuanya di Kampung Kedaung, Desa Cipete, Kecamatan Curug, Kecamatan Curug, Kota Serang.

BACA JUGA:

. Protes Dana Bankeu Covid-19, Iti dan Syafrudin Surati Gubernur Banten

. Dana Tunjangan Gubernur Banten Dipotong Buat Penanganan Covid-19

. Pemprov Banten Siapkan Bantuan Bagi Pekerja Korban PHK

Kisah di atas merupakan potret kehidupan masyarakat yang mengalami kesulitan akibat dari Covid-19. Puzzle yang terangkum, hanya sebagian kecil dari potret keseluruhan yang berhasil di-capture oleh beberapa relawan kemanusiaan seperti Banten Melawan Corona (BMC), Milenial Banten Berbagi (MBB) dan juga gerakan dari wartawan Provinsi bersama Kwarda Pramuka Provinsi Banten. Meski bantuan yang diberikan tak seberapa, namun setidaknya bisa membantu yang kesusahan untuk beberapa hari ke depan.

Kordinator BMC Hendra Leo Munggaran mengaku turut prihatin terhadap apa yang terjadi di tengah masyarakat. Untuk itu ia mengajak semua elemen untuk bergerak, karena persoalan ini bukan hanya urusan pemerintah, tapi semua mempunyai tanggung jawab.

“Pemerintah juga selain melakukan pencegahan dan penanganan, harus cepat turun tangan melihat dan memberikan bantuan kepada warganya. Masyarakat menginginkan negara hadir dan mengayominya dalam kondisi seperti ini,” ujarnya. (Luthfi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.