Kepala Sekolah dan Guru Harus Cegah Kekerasan Seks Terhadap Anak dan Perempuan

  • Whatsapp
Tubagus EntusMahmud Sahiri
Sekda Kabupaten Serang, Tubagus EntusMahmud Sahiri memberikan arahan pada acara Sosialisasi Perlindingan Anak dan Perempuan dari Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Aula Tb Suwandi Pemkab Serang, Kamis (21/11/2019).

KABUPATEN SERANG, REDAKSI24.COM – Tingginya kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan menuai keprihatinan seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Serang, Banten.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Serang, Tubagus Entus  Mahmud Sahiri pun meminta semua pihak untuk bersama menekan kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan agar tidak tidak semakin marak.

Bacaan Lainnya

Tubagus Entus Mahmud Sahiri mengatakan,  banyak korban pelecehan seksual di Kabupaten Serang yang tidak ingin melapor ke aparat hukum dengan alasan tidak ingin memperpanjang masalah.

“Para orang tua enggan melapor ketika terjadi kekerasan terhadap anaknya, karena berpikir ingin menutupi aib keluarga dan takut menjadi saksi karena berhadapan dengan hukum,” katanya pada acara Sosialisasi Perlindingan Anak dan Perempuan dari Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Aula Tb Suwandi Pemkab Serang, Kamis (21/11/2019).

Tubagus Entus Mahmud Sahiri juga mengaku, banyak menerima laporan terjadinya kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan. Pada penghujung tahun 2019 ini, kata Sekda, terdapat 106 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Serang.

“Maka dari itu DKBP3A (Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) mengundang kepala SMP dan guru untuk diberikan pengetahuan mengenai pentingnya melindungi anak dari kekerasan,” imbuhnya.

sekda kabupaten serang
Sekretaris Daerah Kabupaten Serang, Tubagus Entus Mahmud Sahiri.

Pihaknya juga berharap sosialisasi perlindungan anak ini lebih luas agar kepala sekolah, guru dan orang tua ikut melindungi anak-anak dari kekerasan fisik dan mental. “Hak untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang baik serta mendapat proses kegiatan belajar mengajar dengan baik. Kalau ada indikasi yang dilakukan oknum pendidik harus segera lapor,” sambungnya.

Senada dengan itu dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) DKBP3A Kabupaten Serang, Iin Adillah. Menurutnya, mayoritas korban pelecehan seksual itu murid SD dan siswa SMP SMA/SMK. Pelakunya pun, menurut dia datang dari kalangan terpelajar.

“Bahkan ada kepala sekolah juga. Maka DPKBP3A sangat penting melakukan sosialisasi Perda Nomor 13 Tahun 2017 tentang perlindungan anak dan perempuan di Kabupaten Serang,” ungkapnya.

Iin Adillah menggungkapkan, kasus kekerasan anak dan perempuan di Kabupaten Seramg tertinggi berada di Kecamatan Cikeusal, Cinangka, Kramatwatu dan Serang bagian Timur.

“Sedangkan kasus yang ditangani Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) ada 63 kasus untuk kasus anak,” lanjutnya.

Terjadinya pelecehan seksual ini, papar Iin Adillah, karena pengaruh media sosial (Medsos) dan dipengaruhi tontonan video porno. “Sosialisasi ini adalah bentuk kegiatan lain dalam upaya pencegahan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan,” tandasnya.(Advertorial)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.