Kemendikbud: Pentingnya Peran Guru dan Orang Tua Latih Daya Berpikir Kritis Anak

oleh -
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim sedang memberikan sambutan.

JAKARTA, REDAKSI24.COM — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) baru saja merilis hasil Programme for International Students Assessment (PISA) untuk mengevaluasi belajar anak dalam kurun usia 15 tahun. Program tersebut merupakan gagasan oleh the Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno menekankan perlunya pelatihan berpikir kritis dalam sistem belajar anak. Belajar dalam kebiasaannya di sekolah-sekolah hanya berupa pemindahan gagasan dari buku ke catatan lain atau dalam artian, penyalinan.

“PISA ini kaitannya dengan menilai tentang menalar dalam belajar. Jadi lebih thingking skill (kemampuan berpikir)-nya yang dilatih,” katanya saat konferensi pers di Kemendikbud, Selasa Sore (3/11/2019).

Secara aktif, kata Totok, orang tua perlu melakukan aktivitas berpikir kepada anak dalam belajar. Misalkan, dengan mengajukan pertanyaan setelah anak membaca. Hal itu sangat membantu meningkatkan kemampuan berpikir.

“Libatkan sistem dalam membaca, strateginya seperti menanyakan pendapat setelah membaca”, ujarnya saat memberi materi dalam PISA.

Totok mencontohkan anak yang dibiasakan membaca tanpa melakukan interpretasi terhadap gagasan dalam buku akan mengalami kemandekan dalam berpikir. Ia pun menyindir guru yang gemar melakukan kegiatan tersebut saat sekolah.

Totok mengatakan, kegiatan belajar bukanlah menjiplak isi buku ke buku lain, tapi murid perlu diajak mengemukakan pendapatnya sendiri yang kemudian ditulis dalam buku catatan. Dengan demikian, tingkat intelijensi murid akan terasah dan semakin meningkat.

“Merangkum dengan kata-kata sendiri atau meringkas sangat berpengaruh pada reading si murid. Bukan menyalin,” cergasnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menekankan kepada orang tua dan guru untuk tidak menganggap remeh persoalan literasi di Indonesia. Bila survei menunjukkan adanya pencapaian yang buruk pada sistem pendidikan Indonesia, ia mengatakan untuk tidak segan-segan mempublikasikanya demi melakukan evaluasi bersama.

“Kenapa laporan PISA ini sangat penting, pertama ini memberi perspektif. Kenapa perspektif itu penting, Karena dapat memberi kepada kita inside baru,” kata Nadiem dalam sambutannya pada laporan PISA Kemendikbud.

BACA JUGA:

Surat Terbuka Dari Guru di Tapal Kuda, Jawa Timur Untuk Mendikbud

Nadiem memberi pesan tentang pentingnya kekuatan percaya diri. Optimisme mencapai aspirasi dalam belajar perlu dibangun oleh orang tua guna membangkitkan semangat anak dalam mengenyam pendidikan.

“Anak-anak kita, murid-murid kita, itu tidak merasa bahwa dia bisa mencapai potensi yang lebih baik dari yang dia sudah tempuh. Kira-kira begitu. Kuncinya adalah kemampuan optimisme masa depan atau optimisme kemampuan terhadap dirinya sendiri,” tutur Nadiem.

Kemendikbud berharap pendidikan bisa diubah dengan turut campur orang tua anak sejak dini. Mengubah sistem pendidikan tidak cukup hanya dengan mengandalkan peraturan dari menteri, tapi peran orang tua dalam menciptakan mental anak sangat diharapkan, terutama dalam kegiatan menstimulus berpikir kritis anak tadi.

“Perubahan kecil-kecil tanpa ongkos yang mahal untuk mengajak anak berpikir adalah dimulai dari lingkungan. Coba ajak anak pecahkan masalah ini, tak perlu melihat buku, dengan nalar sendiri dulu coba. Itu kan tanpa ongkos. Nah itu yang perlu digerakkan,” pesan Totok. (Alfin/Aan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *