Kekerasan Perempuan dan Anak di Kabupaten Tangerang Dianggap Aib

  • Whatsapp

REDAKSI24.COM – Kasus Kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Tangerang masih tinggi. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tangerang, tercatat sepanjang tahun 2018 terjadi 245 kasus kekerasan. Sedangkan 2019 periode Januari sampai Agustus, sudah terdata 81 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dari rekapitulasi data kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dikeluarkan DP3A Kabupaten Tangerang, dari jumlah 245 kasus kekerasan yang terjadi pada 2018, angka kekerasan seksual merupakan paling tinggi, yakni sebanyak 82 kasus. Kemudian pelecehan seksual sebanyak 70 kasus, tindak pidana penjualan orang (TPPO) 6 kasus, KDRT Fisik 20 kasus, KDRT psikis 9 kasus, kekerasan fisik 10 kasus, dan kekerasan psikis sebanyak 48 kasus.

Bacaan Lainnya

Sedangkan untuk rekapitulasi data kekerasan terhadap perempuan dan anak pada 2019 periode Januari hingga Agustus, tercatat 81 kasus kekerasan. 30 kasus kekerasan seksual, 4 kasus pelecehan seksual, KDRT Fisik sebanyak 12 kasus, KDRT Psikis 8 kasus, 11 kasus kekerasan fisik dan 1 kasus kekerasan psikis.

Kemudian, 3 Anak Korban Bencana (AKB), dan 12 kasus pekerja anak di bawah umur. Dari total jumlah kasus itu, korban anak laki-laki 33 orang, anak perempuan 58 orang, dan perempuan dewasa sebanyak 23 orang.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3A Kabupaten Tangerang, Ratnawati menuturkan, tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tersebut disebabkan masih kurang dan awamnya kesadaran serta pemahaman masyarakat dalam memperlakukan para perempuan dan anak.

Selain itu, para korban yang kebanyakan takut untuk melaporkan tindakan kekerasan yang dialaminya, menurut dia, menjadi faktor terus meningkatnya angka kasus kekerasan perempuan dan anak.

“Para pelaku rata-rata orang terdekat korban, inilah yang membuat para korban takut untuk melapor, karena menurut mereka itu adalah aib,” ungkapnya kepada Redaksi24.com, Senin (2/9/2019).

Ia melanjutkan, dari banyaknya kasus yang terjadi rata-rata korban merupakan anak-anak usia 0-17 tahun. Dia menyebut pada 2018, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak banyak terjadi di Kecamatan Rajeg dan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten.

“Kasus yang paling tinggi ini terjadi di dunia anak, seperti kasus sodomi,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya pada tahun 2020 mendatang akan melakukan program sosialisasi kepada masyarakat, baik di desa dan kecamatan dibantu relawan dari P2T dan P2A. “Pencegahan dan perlindungan perempuan dan anak harus melibatkan semua unsur, dari masyarakat dan juga orang tua,” tandasnya.(Ricky/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.