Kejadian Ibu Yang Harus Jalani Pesalinan di Tengah Jalan Rusak Terus Berulang, Tanggung Jawab Siapa?

  • Whatsapp
borojol bayi lahir di tengah jalan d lebak.
Sari warga Desa Cibarani yang terpaksa harus melahirkan anaknya di jalan.

Laporan reporter: M. Yusuf Permana dan Luthfillah

KABUPATEN LEBAK, REDAKSI24.COM- Bayi laki-laki anak kedua dari pasangan Sari (28) dan Kemod (35) warga Kampung Pasir Sempur, Desa Cibarani, Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak, Banten, terpaksa harus lahir di tengah jalan rusak, Senin lalu, (9/3/2020).

Bacaan Lainnya

Banyak orang yang prihatin sekaligus kagum. Prihatin karena di zaman modern seperti sekarang ini masih ada bayi yan harus lahir di tengah jalan, dan kagum atas heroiknya perjuangan ibu muda itu,  sama seperti heroiknya  Bupati Iti Octavia Jayabaya  saat mencegat truk transformer bertonase besar menghacurkan jalan di wilayahnya yang videonya sempat viral,

Setadinya, Sari yang sedang mengalami fase persalinan menggunakan ojek untuk melahirkan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Cibarani yang jaraknya 8 Km dari rumahnya. dan Jarak ke Puskemas Karang Nunggal  jaraknya harus lebih jauh lagi yakni mencapai 20 Km. Jarak sejauh itu harus ditempuh dengan kondisi jalan rusak parah. Dan nahasnya, di tengah jalan ban sepeda motor bocor, Sari pun terpaksa melahirkan di jalan rusak itu dibantu bidan desa yang kebetulan berpapasan.

“Karena jaraknya jauh, Sari terpaksa naik ojek. Di jalan ban motor ojeknya bocor. Nah, di pinggir jalan itu Sari melahirkan bayinya, dan diberi nama Borojol” kata Kepala Desa Cibarani, Dulhani.

Sari pun senang,  bayi yang akhirnya dinamakannya ‘Borojol’ tersebut,  lahir dengan selamat, dan dalam kondisi sehat, kendati dia harus berjuang untuk melahirkan bayinya di tengah jalan tanah merah penuh bebatuan.

Menurut Dulhani Kades Desa Cibarani, setidaknya sejak 2018 hingga 2020 sudah ada 3 warganya yang melahirkan di jalan poros Cibarani tersebut. Sebabnya, selain jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan, juga ya tadi itu, akses jalan desa rusak tak tersentuh perbaikan. Kendati, kata dia, hanya kasus borojol yang lahir tengah jalan, sedangkan dua kasus lainnya, lahir di pesawahan, dan huma (ladang perkebunan).

“Ini kasus ketiga kalinya, rute poros Cibarani bikin bayi lahir di jalan. Sebelumnya ada juga yang lahir di sawah, dan huma. Ya wajar sih, sok aja cobain. Jangankan yang hamil, yang sehat aja bisa mules naik ojek lewat jalan itu,” ujarnya.

Dijelaskan, jalan tersebut telah dibiarkan rusak selama 4 tahun lamanya, tidak pernah mendapatkan perhatian dari Pemda untuk diperbaiki. Padahal, jalan itu produktif sebagai akses aktivitas warga, dan untuk mengangkut hasil pertanian.

BACA JUGA:

Infrastruktur Rusak dan Minimnya Pelayanan Kesehatan di Lebak, Dituding Jadi Penyebab Ibu Hamil Kerap Lahir di Jalan

Tidak Adanya Pelayanan Medis, Ibu Hamil di Lebak Lahirkan di Tengah Jalan

Pemprov Sudah Berikan Bantuan Dana

Gubernur Banten Wahidin Halim angkat bicara atas kasus Borojol yang lahir di tengah jalan. Gubernur menyayangkan itu harus terjadi ditengah besarnya bantuan keuangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten untuk Kabupaten Lebak yang mencapai Rp65 miliar.

Kata Wahidin, jalan poros desa yang menghubungkan Desa Cibarani-Cinangka itu merupakan kewenangan Kabupaten Lebak untuk memperbaikinya.  “Itu di jalan mana?, punya siapa jalannya?, punya Kabupaten kan? kewenangannya di Kabupaten Lebak, tanya bupatinya,” ujar Wahidin, di Pendopo Gubernur Banten, Rabu (11/3/2020).

Menurut Wahidin, memang daerah-daerah terbelakang, wilayahnya luas, jika anggarannya dialokasikan ke sektor infrastruktur keseluruhan, pasti tidak cukup. Untuk itu Pemprov Banten mendorong pembangunan di Kabupaten/Kota.

Meski demikian, sambung Wahidin, masih banyak daerah-daerah di Banten selatan yang pembangunannya belum merata. Dan Pemprov Banten sudah memberikan bantuan keuangan kepada Lebak dan Pandeglang.

“Makanya kita turunkan anggaran keuangan ke sana. Tanya Bupatinya, jangan digeser-geser aja soal Kabupaten ke Provinsi. Yang jelas penanganannya,” katanya.

Anggota DPRD Banten Dapil Kabupaten Lebak Ade Hidayat mengatakan,  ada proses pelayanan kesehatan yang kurang berjalan baik, terlebih khusus untuk program penyuluhan ibu hamil dan menyusui.

“Perlu dievaluasi dan ditingkatkan koordinasi, sehingga ada program yang berjalan dengan baik dan sinergi dari pusat, provinsi, dan kabupaten,” ucapnya.

Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi perhatian Bupati Lebak agar segera meningkatkan pembangunan infrastukr jalan. Sehingga akses masyarakat menuju fasilitas kesehatan tidak terhambat.

“Saat ini kondisi jalan di Lebak secara umum masih banyak yang rusak, terlebih yang masuk ke pedalaman desa. Tentu saja Bupati juga harus mau koordinasi dengan provinsi, dan atau provinsi harus serius dengan cara memberi klasifikasi prioritas percepatan pembangunan infrastuktur jalan di Lebak,” ujarnya.

Politisi Partai Gerindra ini berharap, Bupati Lebak dan Gubernur Banten membuat langkah strategis membangun Lebak. Sehingga Lebak bisa bersaing dengan kabupaten/kota lain di Banten.
Kata dia, anggaran Pemda Lebak belum memadai untuk membangun seluruh infrastruktur di Lebak. Karena itu perlu stimulus dari provinsi melalui bantuan keuangan.

“Saya kira bantuan keuangan selain dari bagi hasil, ini perlu dirumuskan secara serius oleh provinsi. Pertimbangannya harus pada kebutuhan dan kemampuan suatu daerah,” sambungnya.

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya
Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya

Siapkan Program Jamilah

Untuk mengantisipasi peristiwa serupa terjadi di wilayahnya,lantaran masih banyak akses jalan desa yang berkondisi rusak parah, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengaku telah menerapkan program jemput antar ibu hamil bermasalah atau Program Jamilah dilaksanakan di setiap Puskesmas, yang melibatkan masyarakat.

“Relawannya masyarakat. Jadi mereka yang antar jemput. Saya rasa tidak akan ada kendala jika komunikasinya berjalan dengan baik,” ungkap Iti.

Dia berharap agar masyarakat tidak beranggapan negatif terhadap pemerintahannya yang seolah-olah dianggap tidak bekerja apa-apa, atas kejadian lahirnya bayi  bernama Borojol di tengah jalan.

Kata dia, saat peristiwa tersebut petugas puskesmas pembantu yaitu bidan desa berada di lokasi untuk membantu persalinan. Sehingga bayi Borojol dan ibunya Sari bisa diselamatkan.

“Saat itu ada petugas kami yang menangani persalinannya. Karena memang sebelumnya sudah ada komunikasi dengan petugas puskesmas, sehingga mereka datang untuk menjemput. Ini bukti program Jamilah yang kami terapkan. Karena masih banyak jalan desa yang memang rusak dan belum di perbaiki di wilayah kami. Bahkan di Kecamatan Bojong Manik ada yang lebih parah dari jalan itu kondisinya,” ujarnya.

Sesungguhnya peristiwa Borojol yang lahir di tengah jalan telah memberi pesan, masalah infrastruktur jalan masih menjadi urusan besar setiap pemerintah daerah untuk menyelesaikannya.

Urusan jalan pun kadang terabaikan lantaran konflik kewenangan, dan kondisi keuangan daerah. Meski rakyat tidak mau tahu, yang penting mereka punya akses jalan bagus, dan jika dilewati tidak sampai membuat ibu hamil harus melahirkan di tengah jalan, seperti bayi Borojol.(*)

Editor: Endang JP

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.