Kasus Stunting di Kota Serang Diklaim Menurun

oleh -
Ilustrasi - kampanye pencegahan stunting.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang, Provinsi Banten mengklaim sepanjang masa pandemi COVID-19, angka kasus kondisi gagal pada pertumbuhan anak atau stunting akibat kekurangan gizi mengalami penurunan cukup signifikan dari sebelumnya.

“Sebelum divalidasi datanya ada peningkatan kasus stunting ini. Namun, setelah divalidasi per Desember 2020, ada penurunan dari sebelumnya,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Serang, Lenny Suryani di Kota Serang, Jumat (29/1/2021).

Ia mengatakan berdasarkan data yang ada balita penderita stunting di Kota Serang sejak bulan Januari sampai November 2020, sebanyak 2.138 balita. Namun, setelah dilakukan validasi pada Desember 2020, angka tersebut mengalami penurunan sebanyak 1.679 balita.

“Untuk angkanya, sebelumnya 7,6 persen menjadi 2,6 persen. Memang cukup signifikan,” katanya.

Ia menyebutkan ada banyak faktor penyebab terjadi stunting terhadap balita, diantaranya faktor lingkungan yang tidak sehat, sarana air bersih yang tidak memadai, hingga sanitasi lingkungan buruk.

BACA JUGA: Dinkes Kota Serang Sebut Stunting Tak Bisa Dihilangkan

Kondisi itu bisa berdampak pada gagalnya pertumbuhan fisik dan fungsi penting tubuh lainnya, seperti perkembangan otak dan daya tahan tubuh balita menurun.

“Kalau sudah dewasa pun akan berakibat adanya penyakit-penyakit penyerta, seperti hipertensi, diabetes, jantung, stroke, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, Kasemen menjadi kecamatan paling banyak dan sering terjadi kasus stunting di Kota Serang. Sebab tingkat kesehatan lingkungannya rendah.

“Karena stunting banyak disebabkan faktor kesehatan lingkungan, tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat yang rendah,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya terus berupaya untuk menekan angka stunting di Kota Serang dengan melakukan koordinasi dari beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan gencar menyosialisasikan untuk memberikan pengetahuan kepada orang tua melalui posyandu balita.

“Kami juga berkoordinasi dengan beberapa OPD terkait dalam menangani stunting ini, karena kalau dari Dinkes sendiri hanya intervensi saja sekitar 30 persen. Sisanya 70 persen ada di lintas sektoral atau OPD, misalkan Perkim bagaimana caranya menyediakan air bersih, bagaimana menyiapkan jamban dan sebagainya,” tandasnya.(ANT/DIFA)