Kasus Anak Gugat Ayah Kandung, PN Bandung Putuskan Untuk Mediasi

  • Whatsapp
anak menggugat ayah kandung anak menggugat ayah kandung Rp3 miliar
Persidangan kasus anak gugat ayah di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (26/1/2021). (Foto: Antara)

BANDUNG, REDAKSI24.COM–Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jawa Barat, memutuskan untuk menempuh tahap mediasi sebelum dilakukan sidang membahas pokok perkara. Putusan Majelis Hakim itu terkait kasus anak menggugat ayah kandung senilai Rp3 miliar,

Ketua Majelis Hakim I Dewa Gede Suardita menunjuk hakim Herry Heryawan sebagai hakim mediator. Selanjutnya, ia meminta kepada masing-masing pihak untuk menemui hakim mediator dalam rangka mediasi.

Bacaan Lainnya

“Masing-masing pihak selanjutnya menemui mediator untuk melaksanakan mediasinya dengan tenggat waktu yang ditentukan,” kata Ketua Majelis Hakim di PN Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (26/1/2021).

Proses mediasi itu, dilaksanakan selama 30 hari kerja. Lalu, proses persidangan selanjutnya bakal digelar pada 2 Maret 2021 mendatang.

Meski telah menunjuk hakim mediator, Majelis Hakim menyampaikan proses mediasi tersebut bisa langsung dilakukan tanpa harus menemui mediator.

“Dalam mediasi ini, boleh sendiri atau kepada kita (hakim mediator),” kata hakim.

Kasus anak yang menggugat ayah itu sendiri melibatkan seorang pria bernama Deden sebagai penggugat, dan pihak tergugat seorang kakek berusia 85 tahun bernama Koswara yang merupakan ayah kandung Deden.

Gugatan itu sendiri bermula dari Koswara yang memiliki tanah warisan seluas 2.000 meter persegi di kawasan Jalan AH Nasution, Kota Bandung, Jawa Barat. Sejumlah bangunan pertokoan pun berdiri di tanah tersebut.

Salah satunya bangunan toko di tanah tersebut disewakan kepada Deden. Deden sendiri menyewa bangunan tersebut untuk berdagang makanan dan minuman sejak tahun 2012.

Permasalahan timbul ketika Koswara berniat untuk menjual tanah warisan tersebut. Tujuannya pun warisan tersebut bakal dibagikan kepada ahli waris.

Namun Deden merasa keberatan untuk meninggalkan tempat tersebut karena menjadi tempat mata pencaharian. Akhirnya Deden menggugat ke Pengadilan Negeri untuk meminta ganti rugi kepada pihak tergugat sebesar Rp3 miliar apabila penjualan tanah itu dilakukan. (Bagus Ahmad Rizaldi/Ant/ejp)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.