Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta Panggil Kepala MTs Pembangunan

oleh -
Ilustrasi Penganiayaan Pelajar
Ilustrasi Penganiayaan Pelajar/Net.

JAKARTA,REDAKSI24.COM—Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi DKI jakarta, mengutuk segala tindakan kekerasan yang terjadi di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Untuk itu pihak Kanwil Kemenag akan meminta klarifikasi dari Kepala MTs Pembangunan, terkait dugaan kasus kekerasan yang dialami siswa madrasah oleh alumninya.

“Sudah kami surati, kami panggil untuk meminta klarifikasi dari Kepala Madrasah,” terang Kabid Penmad Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta, Nur Fawaiduddin.

Fawaiduddin mengaku dirinya mengetahui peristiwa perundungan yang dialami oleh 9 siswa MTs Pembangunan tersebut dari sejumlah media massa. Mengetahui hal tersebut dirinya langsung membuat surat untuk mengetahui kejadian sebenarnya.

“Setelah tahu dari media saya langsung mengirim surat kepada pihak madrasah meminta klarifikasi kejadian sebenarnya,” terang Fawaiduddin.

BACA JUGA:

Ingin Masuk Anggota Geng Vembajak, 9 Pelajar di Tangsel Bonyok Dianiaya Senior

Dalami Kasus Perundungan 9 Siswa di Tangsel, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Diduga Trauma Dianiaya Geng Vembajak, Satu Siswa MTs Pembangunan Pilih Pindah Sekolah

Menurut Fawaiduddin, pihaknya sangat mengutuk dan menyayangkan akan aksi perundungan yang terjadi di lembaga pendidikan.

“Jangankan kekerasan terhadap anak, kekerasan apapun bukan hanya itu, tentu kami mengutuk. Tapi kami harus klarifikasi dulu,” ucap dia.

Sebelumnya peristiwa terjadi saat pelaku yang berjumlah 5 orang,  merekrut sejumlah siswa juniornya di (MTs) Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah termasuk ke-9 korban. Karena tak tahan dengan perlakuan seniornya, para korban lantas berupaya menghindar dan tak mau lagi bergabung ke dalam geng Vembazak.

Hal itulah yang lantas memicu kemarahan senior geng Vembazak. Pada tanggal 14 dan 15 Oktober 2019 lalu, mereka mengumpulkan korban di rumah pelaku serta di kantin sekolah MTs MP UIN. Lalu satu persatu dianiaya dengan dipukuli, diinjak-injak, dicekoki miras, hingga dipaksa melakukan tawuran sekolah. (Aan/Hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *