Jika Sosial Distancing Tidak Dijalankan, Ekonomi Indonesia Bisa Kacau

  • Whatsapp

Laporan M. Iqbal dan Lutfillah

Berkembang pesatnya wabah Virus Corona (Covid-19) di berbagai wilayah harus ditangani dengan serius dan secara bersama. Terlebih lagi angka penyebaran virus ini kian meningkat dan banyak membuat aktivitas masyarakat was-was dan tak lagi nyaman.

Bacaan Lainnya

Kekhawatiran masyarakat akan terinveksinya virus asal Wuhan, China ini nampaknya kian terlihat. Di berbagai daerah kini bukan hanya masyarakat yang memiliki ekonomi menengah ke atas saja yang mulai panik terjangkit wabah yang tengah menimpa dunia ini. Masyarakat kalangan menengah ke bawah justru mengalami kepanikan yang lebih besar.Selain khawatir akan terinfeksi virus Corona mereka juga khawatir dengan kondisi perekonomiannya.

Rasa takut dengan adanya virus yang menyerang sistem pernafasan atas ini seakan dikalahkan dengan tuntutan kebutuhan hidup. Langkah pemerintah memutus mata rantai penyebaran virus ini dengan social distancing tak bisa mereka jalankan serta merta karena mereka tak mau keluarganya kelaparan dan tak bisa memenuhi kebutuhan pokok lainnya seperti pendidikan.

Dengan mengacu hal tersebut, tidak sedikit dari masyarakat khususnya kaum menengah ke bawah tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Karena biasanya penghasilan mereka yang didapat hari ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya esok hari.

Seperti yang terjadi pada pedagang sayur-mayur, penjual kopi keliling maupun pedagang kaki lima yang menggantungkan hidupnya dengan berjualan. Mereka memilih tetap melakukan aktivitas dengan dalih mencari sesuap nasi untuk makan.

“Kalau tidak dagang saya harus mencari makan dari mana? Kan ngga mungkin dengan diam di rumah saya bisa dapat makanan dari langit, nanti anak sama istri saya makan apa,” ungkap salah seorang pedagang sayur-mayur di kawasan Kecamatan Ciledug.

Lemahnya ekonomi memang menjadi hambatan untuk sebagian orang agar tetap bisa berada di rumah. Bukan pula tidak berpikir panjang jika kelak virus ini menyerang diri mereka. Kecemasan akan kelangsungan hidup mau tidak mau membuat mereka tetap mencari uang.

Namun selain meraka yang khawatir dengan kondisi ekonomi jika tidak tetap bekerja, lebih disayangkan ada sebagian masyarakat yang justru memanfaatkan momen work from home ini dengan menyalurkan hobi maupun berkumpul dengan teman.

Seperti yang terlihat di kawasan Danau Cipondoh, seakan tak mau ambil pusing akan wabah ini mereka justru asik menunggu umpan yang mereka sangkutkan ke kail agar disambar ikan. Mereka berdalih memancing tidak akan dapat membuat mereka tertular virus ini.

“Kita kan mancing panas – panasan jadi yang saya dengar virus akan mati dengan hawa panas,” ungkap salah seorang pemancing di kawasan tersebut.

Warga kumpul saat social distancing diberlakukan.
Polisi mengingatkan sejumlah warga yang masih kumpul saat social distancing diberlakukan.

Selain para pemancing, lika-liku kisah pun digambarkan oleh kaum milenial. Mereka yang sengaja diliburkan oleh pemerintah agar dapat belajar dari rumah justru asik berkumpul dan memainkan gadged mereka.

Terpantau Redaksi24.com, di kawasan Green Lake City tepatnya di gerbang masuk Perumaham Puri 11 kumpulan muda-mudi justru asik berkumpul dan menikmati secangkir kopi. Bagi mereka, wabah ini bukanlah hal yang menakutkan.

Padahal seharusnya kita dapat membantu pemerintah untuk melakukan pencegahan penyebaran Virus Corona. Tentunya peran Pemerintah Daerah (Pemda), Aparat Kepolisian dan juga TNI sangat dibutuhkan dalam memutus rantai ini.

Karena, ada hal yang tidak kita sadari jika virus ini kian menyebar luas ke lingkungan tempat kita tinggal. Dalih ekonomi tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak melakukan social distancing.
Pasalnya, jika nantinya virus ini menyebar ke setiap penjuru daerah justru akan dapat membuat ekonomi Indonesia terperosok.

Ekonomi Bisa Kacau Jika Social Distancing Tidak Berjalan Maksimal

Redaksi24.com mencoba mengulas lebih dalam tentang dampak buruk masyarakat yang masih menganggap remeh sosial distancing yang diterapkan pemerintah. Ekonom Institute for Development on Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menuturkan langkah Presiden Jokowi untuk melakukan sosial distancing bukanlah hal mudah dan hanya guyonan semata. Namun langkah ini tentunya diambil atas keputusan bersama untuk menyelamatkan manusia maupun perekonomian di Indonesia.

“Langkah ini juga diambil di berbagai negara lain. Tetapi mereka menyebutnya dengan Lockdown. Kenapa ini perlu ? karena tentu penyebaran virus ini harus dicegah,” ungkap dia pada Redaksi24.com.

Menurut Enny, pengaruh social distancing terhadap perekonomian tentu sangat berkaitan. Pasalnya aktivitas masyarakat sangat terbatas untuk memaksimalkan social discanting.

“Untuk menghemtikan menyebarnya wabah ini tentu pemerintah harus menghentikan seluruh kegiatan yang sifatnya berkelompok. Bukan hanya pelajar saja yang harus dirumahkan, tetapi mereka yang kesehariannya banyak berinteraksi dengan orang lain pun harus mulai melakukan ini,” ucapnya.

Meskipun nantinya akan mengganggu kesetabilan ekonomi di setiap daerah, kata Enny, namun langkah tersebut merupakan keputusan tepat yang harus dijalankan bersama.Karena menurut dia, jika nantinya virus ini menyebar dengan pesat ke setiap wilayah justru akan menghancurkan ekonomi nasional.

“Semakin banyak orang yang terjangkit maka akan semakin besar uang yang harus dikeluarkan pemerintah. Begitu pun mereka yang berdalih keluar untuk makan, karena jika mereka nantinya terkena virus ini tentu akan membuat ekonomi mereka hancur,” kata dia.

BACA JUGA:

Saatnya Menjadi Pahlawan di Rumah

Enny berharap masyarakat pun menyadari pentingnya sosial discanting bukan lagi persoalan politik, agama ataupun kepentingan segelintir orang. Tetapi, langkah ini dilakukan untuk menyelamatkan bangsa ini dari wabah penyakit dan juga menyelamatkan perekonomian Negara.

“Jika Covid-19 ini menyebar dan menular ke banyak orang pasti pemerintah harus mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit. Begitupun untuk recovery nya pasti akan lebih sulit jika wabah ini sudah menyebar seperti di Italia dan Wuhan,” kata dia.

Pemerintah Harus Siapkan Kebutuhan Masyarakat

Namun begitu menurut Enny dalam untuk dapat mendukung langkah social discanting pemerintah juga perlu menyiapkan anggaran untuk memberikan kehidupan masyarakat yang menetap di rumah. Pasalnya masyarakat khususny kaum menengah ke bawah akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya jika harus tetap berdiam diri di rumah tannpa bekerja.

“Seperti yang sudah dilakukan oleh DKI Jakarta. Jadi pemerintah harus menyuplai kebutuhan pokok masyarakat seperti makanan dan lainnya yang bersifat dibutuhkan selama dirumah ini wajib,” ungkap dia.
Adapun anggaran yang akan digunakan tersebut, lanjut Enny, dapat bersumber dari anggaran negara yang telah diberikan ke setiap daerah.

“Seperti anggaran tanggap bencana, itu kan bisa dipakai. Tetapi tentunya harus dengan kesepakatan bersama yang juga disetujui. Karena mau bagaimanapun jika virus ini semakin meluas nantinya malah akan menjadikan ekonomi negara terpuruk dengan mengeluarkan dana yang tidak sedikit,” ujarnya.

“Jadi dalam melakukan pencegahan ini Negara harus memberikan anggaran yang memang dibutuhkan di setiap wilayah termasuk untuk para tim medis. Saya yakin dalam waktu 14 hari yang direncanakan pemerintah kita dapat kembali bangkit,” pungkasnya.

Pergeseran Anggaran Belanja Pemerintah Dibutuhkan

Wakil Ketua DPRD Banten, Muhammad Nawa Said Dimyati. Pria yang akrab disapa Cak Nawa itu mengatakan, setelah proses penanganan KLB Covid-19 ini sudah dirancang cukup matang dan bagus, tinggal mempersiapkan penganggarannya. Karena apa yang menjadi kendala Pemprov itu masalah keterbatasan anggaran.

Nawa berharap pandemi Covid-19 ini harus bisa diantisipasi segera dan dengan baik. Terlebih menurut politisi dari Partai Demokrat ini, diprediksi wabah virus Corona ini bisa meningkat di bulan April dan Mei mendatang.

Menurut Nawa, pemerintah termasuk Pemerintah Provinsi Banten harus bisa menghitung secara cermat dampak medis, sosial serta ekonomi akibat wabah Covid-19 ini. Tidak salah jika saat ini pemerintah mulai menyusun ulang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk menggeser anggaran-anggaran yang bisa ditunda dan dialihkan untuk biaya penanganan Covid-19.

“Bila perlu proyek sport center itu ditunda dulu. Alihkan anggarannya untuk penanganan dan pencegahan Covid-19. Kedua langkah ini tentu membutuhkan biaya yang sangat besar. Dan proyek sport center itu biayanya cukup besar, saya rasa cukup jika dialihkan untuk pencegahan dan penanganan Covid-19, ” ujarnya.

Menurut Nawa, rencana pembangunan sport center menelan biaya sekitar Rp944 miliar. Anggaran itu berada di Satuan Kerja (Satker) Dinas Perumahan Rakyat dan Pemukiman (Perkim). Tahapannya hingga kini sudah masuk ke Unit Lelang Pekerjaan (ULP) Provinsi Banten.

Anggaran sebesar itu, lanjut Nawa, sudah bisa menyelesaikan permasalahan KLB Covid-19 ini, termasuk langkah pencegahan yang selama ini masih sangat lemah penanganannya.

“Saya minta BPBD juga melakukan langkah-langkah kongkrit dalam hal pencegahan. Jangan sampai penanganan sudah maksimal, sementara pencegahan lemah. Ini kan nanti sama saja bohong. Tidak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Proses pencegahan itu bisa dilakukan dengan cara penyemprotan disinfektan di seluruh tempat ibadah yang ada di Banten, tempat-tempat umum, keramaian dan jika memungkinkan di setiap rumah warga dilakukan penyemprotan.

“Dengan langkah ini, saya yakin masyarakat akan sadar diri untuk melakukan pola hidup sehat dan tidak akan terjadi kepanikan, sebagaimana yang selama ini terjadi,” katanya.

Dengan begitu untuk memutus penyebaran virus corona ini tentu kita harus berjuang bersama. Bukan hanya pemerintah, tetapi masyarakat juga harus ambil andil demi teratasinya wabah yang tengah menghantui dunia ini.(*)

Editor Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.