Jend (Purn.) Moeldoko: Jangan Menyalahgunakan Agama Demi Kepentingan Politik

  • Whatsapp
Jend (Purn.) Moeldoko.

JAKARTA, REDAKSI24.COM-Keberadaan ormas Front Pembela Islam (FPI) selama ini menuai pro kontra dari berbagai pihak. Terutama karena manuvernya yang kerap menyita perhatian publik hingga dianggap merundung stabilitas dalam negeri.

Liarnya ormas yang dimotori Muhammad Rizieq Shihab itu ternyata mendapat sorotan serius dari Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia (KSP RI), Jend (Purn.) Moeldoko.

Bacaan Lainnya

Dalam sebuah Kuliah Umum bertajuk “Tantangan Ketahanan Nasional Masa Kini” di Kampus UI, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis 17 Oktober 2019, tangan kanan Presiden Joko Widodo itu mempertanyakan eksistensi ormas FPI yang mengusung nama “Pembela Islam”.

Moeldoko menimbang nama itu terlalu berlebihan karena seolah-olah keberadaan agama Islam dan Tuhan dirasa perlu dibela oleh umat muslim. Padahal, bila melihat keadaan agama Islam dan umat muslim di Indonesia, tidak ada hal yang menyebabkannya membutuhkan pertolongan.

“Mengapa harus ada apa itu, Front Pembela Islam? Apa yang dibela? Ya sorry ya, aku langsung ngomong blak-blakan saja kan gitu. Memangnya Islam sedang dijajah oleh orang lain apa? Apalagi itu dibela? Tuhan kok dibela? Ngapain? Dia enggak perlu pembelaan,” terang Moeldoko dalam forum tersebut yang kemudian disambut tepuk tangan peserta.

Statement Moeldoko itu bermula karena adanya pertanyaan salah satu peserta. Seorang peserta bertanya kepada Moeldoko apakah faktor agama mempengaruhi stabilitas negara Indonesia seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Sang peserta mencontohkan seperti kasus negara Suriah yang porak poranda karena mencampuradukkan agama dengan persoalan geopolitik.

Moeldoko pun tidak menampik jika fakta terjadinya distabilitas dalam negeri berkaitan erat dengan adanya gerakan ideologi yang diperparah oleh penafsiran yang salah terhadap agama.

“Apakah agama berpengaruh terhadap stability? Iya. Sekarang ini banyaklah yang mengklaim paling benar dengan agamanya. Dia sudah bisa mendefinisikan dengan masuk surga, orang lain masuk neraka,” ujarnya.

BACA JUGA:

Terkait Penganiayaan Ninoy Karundeng, Munarman Penuhi Panggilan Polisi

Negara Majemuk Harusnya Tak Persoalkan Mayoritas-Minoritas

Demi Merawat Keberagaman UMT Gelar Masta Dan Pagelaran Budaya

Mantan Panglima TNI itu juga menyampaikan banyaknya oknum-oknum yang dengan mudah mengaku sebagai ustaz dan habib. Padahal kata Moeldoko, sebagian orang yang mengaku dirinya sebagai ustaz itu hanya bermodalkan busana muslim lantas mendeklarasikan dirinya sebagai pemuka agama.

“Jadi jangan gara-gara modal baju koko 150 ribu, pergi ke Tanah Abang, beli kostum, (habis) dari sana langsung (bilang), saya Habib, jangan..jangan,” sindir Moeldoko disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Baginya, isu agama sangat mempengaruhi stabilitas negara. Oleh karenanya ia mengajak masyarakat agar jangan menyalahgunakan agama demi kepentingan politik sembari menebar intoleransi dengan memakai istilah mayoritas dan minoritas terhadap suatu golongan. (Alfin/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.