Jejak Romantisme Seorang Aktivis : Ode Untuk Sketsa Keluarga Ara

oleh -
Gan-Gan RA

By : Gan-Gan R.A*

SUTRADARA Film Hollywood ternama yang genius dan saintis, di mana film hasil kreasinya menggebrak jagat cinematografi secara spektakuler dan booming di pasar cinema dunia, filmnya selalu masuk kategori box office pernah berkata, “Kenyataan lahir dari impian.” 

Tanpa impian, tak ada gelegak hasrat, ambisi juga cita-cita. Impian adalah puncak harapan yang dikehendaki manusia. Impian adalah puncak asa dari segala keinginan yang digumamkan lirih doa. Begitupun impian seorang pemuda yang tengah berlayar sebagai nahkoda di kapal kehidupan barunya yang bernama rumah tangga. Badai dan prahara akan menempa sang nahkoda menjadi kapten kapal yang piawai. 

“Nahkoda yang tangguh tidak lahir dari pantai yang tenang. Nahkoda yang tangguh ditempa badai dan gelombang.” Adagium tentang daya hidup mengatakan demikian, begitupun dengan daya cipta. Daya cipta senantiasa lahir dari himpitan dan tekanan. Daya cipta yang menggeliatkan kreatifitas ketika sebuah karya tengah dalam proses dilahirkan, membentuk suasana dramatikal yang tidak pernah lahir dari situasi datar tanpa guncangan. 

Bagi seorang kreator himpitan dan tekanan hidup adalah medan pertempuran yang tidak hanya mengancam eksistensi, juga mengancam berlangsungnya hari esok dan lusa. Di bawah ancaman naluri manusia bangkit melakukan perlawanan, sebagai benteng pertahanan sekaligus melancarkan serangan. Naluri perlawanan inilah yang kelak membentuk mainset dan karakteristik seorang mahasiswa fakultas hukum di sebuah universitas terkemuka di Bandung, menjadi seorang aktivis pergerakan yang gelisah menghadapi situasional psikologis dari tatanan sosial politik yang penuh ketimpangan, ketidakadilan dan hukum yang condong menjadi alat politik kepentingan rezim Orde Baru. 

Melalui tulisan, perlawanan itu pun dirancang dengan kata. Dimulai dari ruang kantor yang lengang, ketika malam menghamparkan palagan pertempuran bagi pikiran yang menolak bertekuk lutut kepada berhala kekuasaan. Kegelisahan eksistensialisme tengah menempuh jalan pedang di jalan sejarah yang berlubang dan temaram. 

Seperti mengapresiasi potret hitam putih dari jepretan kamera seorang fotografer, Gufroni muda membidik momentuk estetik dari rentetan peristiwa yang diabadikan dalam deskripsi garis dan warna hingga membentuk rupa, sebuah sktesa tentang Ode untuk keluarga yang tengah dibangunnya. Sebuah Ode kepada cinta yang diperjuangkan dengan keringat, airmata dan juga kobaran semangat untuk memberikan yang terbaik kepada orang-orang yang dicintainya, istri dan anak. 

Tak ada yang lebih sakral dari perjuangan cinta yang berdarah. Inilah perjuangan sunyi seorang lelaki muda yang kelak menjadi seorang aktivis anti korupsi dan advokat publik,  di tengah getir situasi ekonomi yang menghimpitnya tanpa ampun. 

Keluarga Ara sebuah buku berisi catatan-catatan lepas, terdiri dari beberapa helai surat, cerita pendek, esai dan puisi pamflet. Ditulis dengan tenang, jujur dan natural, diwarnai suasana hati yang didominasi

semburat cinta, tanpa diksi dan taburan metafora abstraktif yang membuat pembaca mengerutkan dahi ketika membacanya. 

Membaca lembar demi lembar Keluarga Ara, pikiran pembaca akan dituntun bertamasya ke dalam hati seorang pemuda yang percaya bahwa cinta adalah energi metafisis yang membakar hati manusia untuk bangkit memperbaiki keadaan dan mewujudkan impian. 

Ara, dipetik dari sebuah nama perempuan yang baru lahir, mungil, cantik dan lucu, Annelies Larasati Gufron. Putri seorang aktivis anti korupsi yang menolak berkompromi dengan budaya hipokritme dan memposisikan diri sebagai oposisi terhadap cleptokrasi. Narasi Keluarga Ara adalah Ode, koor yang mendedahkan nyanyian agung kepada cinta yang memeluk luka bangsa dan kasih sayang kepada keluarga. Sebuah buku yang berisi “catatan hati” dan sketsa jiwa sebagai pelengkap secangkir kopi di beranda rumah, ketika menjelang senjakala tiba. Catatan hati yang menemani hari libur bersama keluarga untuk menghangatkan ingatan kita tentang arti dan makna tetes keringat masa lalu ketika hari ini menyajikan narasi yang belum selesai untuk ditulis oleh sejarah.

Gading Serpong, April 2019

* Lawyer & Entrepreneur. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *