Jaringan Internasional Kendalikan Kasus Narkoba 2,5 Ton Dari Lapas

oleh -
jaringan, narkoba, internasional, polri, lapas, kasus
Jaringan internasional kendalikan kasus narkoba 2,5 ton dari Lapas/Foto: Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (kedua kanan) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani (ketiga kanan), Kepala BNN Komjen Pol Petrus Reinhard Golose (kanan), Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto (kiri) menunjukkan barang bukti sabu seberat 2,5 ton saat gelar kasus jaringan norkoba internasional di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta, Rabu (28/4/2021)/Antara.

JAKARTA, REDAKSI24.COM–Kasus narkotika jenis sabu-sabu seberat 2,5 ton yang berhasil diungkap Polri dikendalikan oleh jaringan narkoba internasional dari dalam Lapas (lembaga pemasyarakatan).

Polri berhasil mengungkap kasus narkoba jaringan internasional itu setelah bekerja sama dengan Ditjen Bea dan cukai Kementerian Keuangan, Drug Enforcement Administration (DEA) dan Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham.

Kapolri Jenderal polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan, pihaknya berhasil menangkap 18 tersangka kasus narkoba jenis sabu-sabu tersebut, 17 tersangka merupakan warga negara Indonesia (WNI), dan satu warga Nigeria, sementara satu tersangka WNI dilakukan penembakan.

“Tersangka atas inisial KMK, AW, AG, A, MI, dan AL merupakan terpidana di lapas dengan hukuman di atas 10 tahun dan hukuman mati,” ujar Kapolri Jenderal polisi Listyo Sigit Prabowo, saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (28/4/2021).

Kapolri melanjutkan, tujuh orang tersangka merupakan jaringan pengendali, delapan orang sebagai jaringan transporter dan tiga orang sebagai jaringan pemesan.

“Mereka masih menjadi pengendali jaringan narkoba internasional,” kata Sigit.

Menurut Sigit, barang bukti Narkoba yang berhasil diamankan itu kalau dirupiahkan mencapai nilai Rp1,2 triliun, dan jika beredar dapat merusak sekitar 10,1 juta jiwa masyarakat Indonesia.

 

Menkumham harus lebih tegas

Sementara itu, Anggota Komisi III DPR RI Santoso saat rapat kerja dengan Menkumham beberapa waktu lalu, meminta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly untuk tegas menindak para bandar yang mengendalikan peredaran narkoba dari dalam Lapas.

“Bukan rahasia umum bahwa para bandar setelah ditangkap, lebih nyaman dan bahkan lebih leluasa mengendalikan narkoba dibandingkan saat mereka di luar Lapas,” kata Santoso, saat itu.

Santoso mencontohkan di lingkungan tempat tinggalnya, terdapat seorang bandar kecil narkoba. Sebelum ditangkap penegak hukum, bandar itu hanya tinggal di rumah kontrakan.

Namun, kata dia, pada saat ditahan di Lapas, bandar itu malah mampu membeli rumah tempat tinggal.(ejp)

Sumber: Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.