Jaksa Kabulkan Restorative Justice, Pelaku Penganiayaan Nelayan Kronjo Bebas

oleh -
Jaksa Kabulkan Restorative Justice, Pelaku Penganiayaan Nelayan Kronjo Bebas kabupaten tangerang
Kepala Kejari Kabupaten Tangerang, Nova Elisa Saragih mengatakan, upaya Restorative Justice sudah sesuai dengan peraturan jaksa (Perja) nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif, Kamis (18/11/2021).

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM  – Randi (27), pelaku penganiayaan terhadap warga Desa Kronjo, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten, dibebaskan dari jeruji tahanan Polsek Kronjo. Pria yang juga warga Kronjo itu dibebaskan setelah kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Tangerang mengabulkan upaya Restorative Justice.

Rendi dijebloskan ke tahanan Mapolsek Kronjo pada 9 September 2021 lalu usai melakukan penganiayaan kepada korban bernama Imam warga Kronjo yang juga teman dekatnya pada 27 Juli 2021.

Berdasarkan hasil penyelidikan unit Reskrim Polsek Kronjo, pelaku dijerat dengan pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan penjara.

“Tuntutannya kami hentikan, atas permohonan kami ke Kejagung (Kejaksaan Agung). Karena syarat-syaratnya lengkap, Jampidum mengabulkan Restorative Justice kepada pelaku,” kata Kepala Kejari Kabupaten Tangerang, Nova Elisa Saragih, Kamis (18/11/2021).

BACA JUGA: Terkait Anggaran ATK, Kejari Undang Pejabat Disdukcapil Kabupaten Tangerang 

Nova mengatakan, Kejari mengupayakan Restorative Justice karena berbagai pertimbangan, diantaranya karena kedua belah pihak antara pelapor Imam dan terlapor Randi sepakat berdamai. Selain itu, hal yang menjadi pertimbangan lain adalah pelaku belum pernah melakukan kejahatan.

Selain itu, kata Nova, upaya Restorative Justice sudah sesuai dengan peraturan jaksa (Perja) nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif.

“Restorative Justice  merupakan upaya penyelesaian perkara di luar jalur hukum atau peradilan, dengan mengedepankan mediasi antara pelaku dengan korban,” jelas Nova.

Dengan dikabulkannya Restorative Justice, lanjut Nova, diharapkan bisa memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat. Karena saat ini banyak anggapan atau stigma di masyarakat yang menyebut hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.

“Dengan Restorative Justice ini, kami berharap kedua nelayan Kronjo ini bisa kembali rukun, dan tidak mengulangi perbuatannya lagi,” tandasnya.

BACA JUGA: TRUTH Minta Kejari Kabupaten Tangerang Jangan Kendor Ungkap Dugaan Penyelewengan Penggunaan Anggaran ATK Disdukcapil Sebesar Rp5,2 Miliar 

Sementara, Rendi mengaku terharu dengan upaya perdamaian yang dilakukan Kejari Kabupaten Tangerang. Dia mengucapkan terima kasih kepada Kejari Kabupaten Tangerang, sehingga dirinya bisa menghirup udara bebas, usai mendekam di sel tahanan Mapolsek Kronjo.

“Saya sangat terharu, dan berjanji akan hidup berdampingan dengan korban, karena selama ini saya khilaf, hingga bisa melukai korban,” tandasnya.

Sebelumnya, kedua sekawan sesama nelayan itu, Rendi dan Imam terlibat pertengkaran. Kala itu korban disuruh beli minuman keras oleh pelaku yang sedang dalam keadaan mabuk. Namun korban tidak mau.

Pelaku kesal karena korban tidak mau disuruh, akhirnya pelaku memukuli korban. Atas peristiwa itu korban Imam melaporkan Randi ke Mapolsek Kronjo. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, pelaku ditahan di Polsek Kronjo.

Mengingat sama-sama nelayan, keluarga korban dan pelaku menggelar musyawarah secara kekeluargaan dan sepakat untuk berdamai. Atas dasar itu, kedua belah pihak mengajukan Restorative Justice yang akhirnya dikabulkan Kejaksaan Agung melalui Kejari Kabupaten Tangerang.(RM1/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.