Ini Penyebab Kasus Kematian COVID-19 Tinggi di Jawa Bali

oleh -
kematian covid-19 kasus kematian, jawa bali komorbid vaksin menko bidang maritim dan investasi luhut binsar pandjaitan ppkm darurat
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi yang juga Koordinator PPKM Jawa-Bali, Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (25/2021) mengatakan, hasil penelitian tim di lapangan, angka kematian meningkat karena beberapa faktor.

JAKARTA, REDAKSI – Dalam sepekan terakhir kasus kematian akibat COVID-19 di Jawa dan Bali jumlahnya masih tinggi. Dari hasil temuan menyebut rata-rata pasien yang meninggal menderita komorbid atau belum menerima vaksin.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi yang juga Koordinator PPKM Jawa-Bali, Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (25/2021) mengatakan, hasil penelitian tim di lapangan, angka kematian meningkat karena beberapa faktor.

“Faktor itu diantaranya kapasitas RS yang sudah penuh, pasien yang ketika datang saturasinya sudah buruk, dan meninggal karena tidak terpantau ketika melakukan isolasi mandiri di rumah,” kata Luhut.

Faktor-faktor penyebab kematian pasien COVID-19 itu terangkum pada Rapat Koordinasi (Rakor) Tindak Lanjut Langkah Intervensi untuk Penurunan Tingkat Kematian Akibat COVID-10 di Jawa-Bali, Sabtu (24/7/2021).

Rakor tersebut juga dihadiri Menteri Kesehatan, Gubernur Bali, Gubernur Jawa Barat, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Jawa Timur, Deputi Gubernur DKI Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Bupati Surakarta, Bupati Karawang, dan perwakilan kementerian serta lembaga terkait.

BACA JUGA: Pelaku UMKM Diminta Tidak Menyerah karena Pandemi

“Setelah memahami faktor-faktor ini, kami harus melakukan intervensi untuk mengurangi angka kematian secara cepat,” lanjutnya.

Langkah-langkah intervensi tersebut, antara lain dengan meningkatkan kapasitas ICU dari rumah sakit dengan oksigen sentral pada daerah-daerah yang memiliki tingkat kematian tinggi serta menyediakan isolasi terpusat dan terpantau bagi pasien resiko tinggi yang melakukan isolasi mandiri.

Selain itu, dinas kesehatan juga diminta untuk berkoordinasi dengan TNI untuk memperoleh akses paket obat gratis dari Presiden.vSatuan Tugas (Satgas) PPKM di level desa harus kembali diaktifkan dan melakukan pemantauan ketat terhadap setiap warga yang terindikasi mengalami gejala COVID-19.

Selanjutnya, pemerintah secara berkala akan menerapkan pemantauan angka kematian dengan kerangka yang mencakup jumlah kasus kematian yang sudah divaksin, kasus komorbid, klasifikasi usia, ketersediaan akses terhadap obat-obatan, perawatan oksigen, pentahapan penyakit dan paparan terhadap badai sitokin, serta lokasi kematian.

Kerangka tersebut diterapkan agar seterusnya pemerintah dapat mengambil langkah mitigasi secara strategis, komprehensif dan tepat sasaran.

“Kunci dalam menangani pandemi ini adalah disiplin dan kerja bahu-membahu. Dengan bersama dan konsisten melakukan dan meningkatkan testing dan tracing, diharapkan rantai pandemi akan terputus,” tandas Luhut.(Ant/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.