Ini Enam Rekomendasi GP Ansor Terkait Penanganan Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Konferensi Besar GP Ansor di Minahasa yang ditutup Yaqut mengeluarkan rekomendasi penanganan pandemi
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas dalam penutupan Konferensi Besar GP Ansor di Minahasa, Sulawesi Utara, Minggu.

MINAHASA, REDAKSI.COM— Konferensi Besar XXXIII GP (Gerakan Pemuda) Ansor  yang digelar di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara sejak 18 September dan ditutup Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, mengeluarkan enam rekomendasi penanganan pandemi Covid-19, Minggu (20/9).

“Pandemi belum terlihat kapan akan berakhir dan masih terus mencatatkan penambahan kasus baru. Seluruh dunia berharap segera ditemukan vaksin sehingga mobilitas sosial ekonomi kembali dapat dipulihkan,” ujar Yaqut di Minahasa.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, pandemi mengubah landskap sosial ekonomi masyarakat dunia dalam 6 bulan terakhir. Berdasarkan data per 18 September 2020 saja, secara global Covid-19 telah menginfeksi 29,87 juta manusia dan menyebabkan 940.000 di antaranya meninggal dunia.

Sementara di Indonesia, tercatat 232.000 kasus positif dan menyebabkan 9.222 orang meninggal dunia per tanggal yang sama. Di lain  sisi, lanjut Gus Yaqut, sapaan petinggi GP Ansor ini,  pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II anjlok drastis menyentuh angka minus 5,32 persen dan diperkirakan masih akan mengalami pelamatan di kuartal III.

Atas situasi yang serba tidak menentu itu, kata Gus Yaqut, GP Ansor menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia sebagai berikut:

1. Pandemi COVID-19 adalah krisis kesehatan, sehingga semua pendekatan dan kebijakan harus dilakukan dengan menjadikan pertimbangan kesehatan sebagai prioritas utama;

2. Belajar dari pengalaman negara lain yang telah berhasil membatasi penyebaran Covid-19, pengambil kebijakan harus terus menerus mengevaluasi pendekatan yang dijalankan dengan mengadopsi praktik terbaik dari negara lain dan menyesuaikannya dengan kearifan lokal;

3. Dalam kondisi krisis kesehatan ini, semua keputusan yang diambil oleh para pemangku kebijakan termasuk birokrasi dan aparat pemerintah harus dilakukan secara cepat, efektif, dan efisien;

4. Untuk menanggulangi dampak pertumbuhan ekonomi yang negatif, pemerintah diharapkan menyusun ulang prioritas baik kebijakan maupun anggaran untuk memastikan masyarakat terdampak tetap memiliki daya beli dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, dan program-program pembangunan diprioritaskan kepada program pemberdayaan dan jaring pengaman ekonomi untuk masyarakat;

5. Para elit politik harus bergandengan tangan, saling menguatkan dan mengedepankan kemaslahatan bangsa dengan menghentikan rivalitas yang dapat berdampak kepada perlambatan pengambilan keputusan dalam penanggulangan krisis Covid-19 sebagai musuh bersama;

6. Mengingat pembatasan mobilitas masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19 tidak hanya mengganggu kehidupan perekonomian, namun juga kehidupan sosial masyarakat, perlu dilakukan mitigasi dampak sosial dengan melibatkan para ahli dan pemimpin informal masyarakat untuk memastikan tidak muncul gejala keterasingan dan ketakutan/paranoid yang berlebihan dari sebagian rakyat kita.

“Semoga dengan ikhtiar tanpa terputus dan terus mendekatkan diri kepada Allah SWT, Indonesia bisa selamat melewati ujian pandemi ini,” harap Gus Yaqut.(Guido/Ant/Jaya)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.