Ini Cerita Keberadaan Ikan Mujair Yang Mengandung Mistis

oleh -
MUJAIR : Batu nisan makam Moedjair penemu Ikan mujair lengkap dengan relief ikan mujair.

REDAKSI24.COM—Bagi kebanyakan orang Indonesia keberadaan ikan mujair tentu bukanlah hal yang asing. Terlebih bagi kalangan pemancing,  pasti ikan ini  menjadi salah satu jenis ikan air tawar  yang sering mereka dapatkan saat memancing di sungai atau di kolam pemancingan.

Namun ternyata tak banyak orang yang tahu bahwa ternyata menurut cerita ada perjalanan spritual nan mistis dibalik kemunculan ikan yang rasanya sangat gurih itu, mau tahu, begini kisahnya.

Dahulu kala, di sebuah Desa Kuningan, 3 km dari arah timur pusat Kota Blitar, hiduplah seorang pria yang bernama Iwan Dalauk yang akrab disapa Mbah Moedjair. Beliau lahir pada tahun 1890 dari pasangan Bayan Isman dan Ibu Rubiyah.

Menurut informasi yang disadur dari berbagai sumber, dari pernikahannya dengan Partimah, Mbah Moedjair dikaruniai 7 anak, kesemua anak beliau sekarang sudah meninggal kecuali Ismoenir yang tinggal di Kanigoro Blitar dan Djaenuri yang tinggal di Kencong Jember.

Menurut penuturan Mbah Ismoenir anak ke-5 dari Mbah Moedjair yang masih hidup. Untuk penghasilan sehari-hari, Moedjair dahulu membuka warung sate kambing yang pada zaman tersebut cukup terkenal didaerah Kuningan-Kanigoro.

Tetapi, ada sisi negatif dari perilaku Mbah Moedjair waktu yaitu suka bermain judi dengan orang Tionghoa. Dan tidak mau berjudi dengan orang jawa, beliau juga berpesan ke semua anak-anaknya untuk tidak berjudi.

Seiring waktu berjalan, efek negatif yang ditimbulkan dari kegemaran berjudi itu adalah kehancuran dari bisnis warung sate milik Mbah Moedjair, seperti yang dituturkan oleh Mbah Slamet cucu Mbah Moedjair dari Mbah Wahanan.

Nah, di saat masa-masa terpuruk ini, Mbah Moedjair menjalani laku tirakat yaitu mandi di Pantai Serang tepatnya Blitar Selatan. Karena Mbah Moedjair diajak oleh Kepala Desa Papungan (Bapak Muraji),  juga karena beliau bermimpi rambut dan jenggotnya menjadi panjang menyentuh tanah.

Pada suatu waktu ketika melakukan ritual mandi ini, Mbah Moedjair menemukan se-ekor ikan yang jumlahnya sangat banyak dan mempunyai keunikan yaitu menyimpan anak didalam mulutnya ketika ada bahaya dan dikeluarkan ketika keadaan sudah aman.

Melihat keunikan ikan ini, Mbah Moedjair berniat menjaring dengan menggunakan kain Udeng ( ikat kepala ) yang biasa beliau pakai. Lalu mengembangbiakkan dirumahnya didaerah Papungan-Kanigoro-Blitar.

Pada saat Mbah Moedjair memasukkan ikan ke air tawar yang berada di depan halaman rumahnya, tiba-tiba ikan ini mati. Karena awalnya habitat Ikan ini hidup di air laut,.

Melihat fenomena seperti ini, Mbah Moedjair tidak putus asa, tetapi beliau berfikir keras bagaimana caranya agar spesies ikan ini hidup di air tawar yang habitat awalnya hidup di air laut yang rasanya asin.

Dengan semangat dan kegigihannya, Mbah Moedjair berjalan kaki sejauh 35 km dua hari dua malam dari Papungan ke Pantai Serang melewati hutan belantara, akses jalan curam dan terjal, tetapi Mbah Moedjair tidak pantang menyerah.

Akhirnya beliau sampai di pantai tersebut dan mengambil spesies ikan ini dengan menggunakan Gentong yang terbuat dari tanah liat.

Setelah itu, beliau juga melakukan percobaan dengan mencampurkan air laut yang asin dengan air tawar, dengan komposisi lebih banyak air tawar dari pada air laut yang kemudian kedua jenis air yang berbeda ini dapat menyatu. Hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang hingga akhirnya setelah 11 kali melakukan percobaan tersebut Mbah Moedjair berhasil, dan ikan hidup 4 ekor, dalam arti beliau melakukan perjalanan dari Papungan ke Pantai Serang sebanyak 11 kali.

Keberhasilan percobaan ini, melegakan hati Mbah Moedjair. Segala jerih payah, kesulitan dan rintangan terbayar lunas dengan hidupnya 4 ekor ikan spesies baru ini. Ke-4 ekor ikan ini kemudian oleh Mbah Moedjair ditangkarkan di kolam daerah sumber air Tenggong Desa Papungan. Dari awalnya hanya satu kolam akhirnya bertambah menjadi 3 kolam.

Singkat cerita, beliau Wafat pada tanggal 07-09-1957 karena penyakit Asma dan dimakamkan di pemakaman umum Desa Papungan. Lalu pada tahun 1960 atas inisiatif Departemen Perikanan Indonesia, makam beliau dipindahkan ke area khusus di selatan Desa Papungan yang juga berfungsi sebagai makam keluarga. Di batu nisan beliau ditulis Moedjair penemu Ikan mujair lengkap dengan relief ikan mujair. Sebagai penghargaan atas jasa beliau yang tidak ternilai. Juga akses jalan ke makam, juga diberi nama mujair.

Pada tanggal 6 April 1965 pemerintah Indonesia melalui Departemen Perikanan Darat dan Laut menganugerahkan Mbah Moedjair sebagai Nelayan Pelopor. Piagam ini ditanda tangani oleh Menteri Perikanan Hamzah Atmohandojo.

Itulah sejarah dan asal usul Ikan mujair yang sampai saat ini, keberadaan ikan tersebut masih ada dan tetap lestari.(Agus/Hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *