Indonesia Belum Perlu Impor Dokter dari Luar Negeri

oleh -
Indonesia, Impor Dokter, Luar Negeri, SDM dokter, Pandemi covid-19, indonesia, PB IDI,
ILUSTRASI - Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Moh Adib Khumaidi dalam diskusi media via daring yang digelar PB IDI, Senin (19/2021) menilai Indonesia belum membutuhkan dokter dari luar negeri.

JAKARTA, REDAKSI24.COM – Indonesia belum membutuhkan dokter dari luar negeri atau dokter impor. Karena sumber daya manusia (SDM) dokter di dalam negeri masih cukup untuk menangani masalah kesehatan selama pandemi COVID-19.

“Kita belum butuh dokter dari luar negeri. Kita masih mampu,” ujar Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Moh Adib Khumaidi dalam diskusi media via daring yang digelar PB IDI, Senin (19/2021).

Menurut Adib, saat ini hanya perlu ada pola pemberdayaan para dokter termasuk memetakan di mana saja mereka dan kompetensi apa saja dibutuhkan, baik itu dokter umum maupun spesialis. Dia berharap SDM dokter yang tersedia akan terus mampu mencukupi kebutuhan dalam pelayanan kesehatan.

Kemudian, menurut dia, ketimbang mendatangkan dokter dari luar negeri, Indonesia membutuhkan obat-obatan, alat kesehatan dan oksigen yang pasokannya bisa dipenuhi dari luar negeri.

“Yang kita butuhkan sekarang obat, alat kesehatan, oksigen. Tiga hal itu yang saya kira perlu ada support dari luar. Tetapi kalau terkait SDM sampai saat ini mudah-mudahan kita masih mampu terus,” tutur Adib.

BACA JUGA: Indonesia Terima Bantuan Alkes dari Uni Emirat Arab

Terkait angka kasus, Adib mencatat adanya kenaikan kasus aktif seperti dalam waktu sebulan terakhir dari semula 6 persen pada Juni lalu menjadi 18 persen. Hal ini menunjukkan pertambahan pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang dirawat maupun isolasi mandiri.

Menurut dia, kenaikan kasus aktif ini menunjukkan beban tenaga kesehatan dan layanan yang semakin berat. Bila angka terus naik, menurut dia, sistem kesehatan bisa kolaps.

“Parameternya sudah jelas, pada saat penumpukan pasien di UGD, penambahan kapasitas sampai membuka tenda di rumah sakit, maka kondisinya saat ini dengan keterbatasan fasilitas tempat tidur, kemudian (pasokan) oksigen yang kurang, kebutuhan obat dan alat kesehatan,” kata Adib.

“Kondisi ini yang saya kira functional colapsnya sudah terjadi tetapi kita tidak bisa menyatakan secara general. Kalau mau bicara general kita harus punya mapping,” sambungnya.

Adib mengatakan, pemerintah daerah sebaiknya aktif melakukan pemetaan fasilitas kesehatannya, baik itu dari sisi supply dan demand, kemampuan melayani pasien hingga kebutuhan sumber daya dokter.(Ant/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.