Ibu Rumah Tangga dan Guru Ditetapkan Jadi Tersangka Kasus Korupsi PKH di Tigaraksa

oleh -
Ibu Rumah Tangga dan Guru Ditetapkan Jadi Tersangka Kasus Korupsi PKH di Tigaraksa

KABUPATEN TANGERANG,REDAKSI24.COM– Seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) dan seorang guru ditetapkan jadi tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi (Tipikor) oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Tangerang. IRT berinisial YN dan guru berinisial AD jadi tersangka setelah jajaran Kejari Kabupaten Tangerang mengantongi bukti yang cukup atas dugaan tindakan korupsi yang dilakukan keduanya dalam Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Tigaraksa.

“IRT berinisial YN dan guru berinisial AD telah kami tetapkan sebagai tersangka dalam kasus Tipikor dugaan penyalahgunaan dana Bansos PKH Kecamatan Tigaraksa selama dua tahun yakni tahun 2018 sampai 2019,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang Nova Elida Saragih kepada awak media, Senin, (21/3/2022).

BACA JUGA: Polisi, Kejaksaan dan Pemkot Tangerang Selidiki Mahalnya Harga Minyak Goreng di Pasaran

Nova menjelaskan ada beberapa alat bukti yang telah dikantongi Kejari Tangerang untuk menjerat keduanya yakni berupa kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM), struk penarikan di ATM, serta rekening koran dan surat keterangan Keluarga Penerima Manfaat ( KPM).

BACA JUGA: Penggiat Anti Korupsi Minta Kejaksaan Tangani Kasus Dugaan Penyelewengan Dana Stimulan COVID-19 di Salah Satu BUMD Kabupaten Tangerang

“Tersangka AD  melanggar aturan sebagai pendamping karena dirinya merupakan seorang guru yang masih aktif,” tegas mantan Kabid Pengendalian Sentra Pendidikan dan Pelatihan pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Fungsional Badan Pendidikan Pelatihan Kejaksaan Republik Indonesia ini.

BACA JUGA: 3.600 KPM PKH di Tigaraksa Rampung Diperiksa Kejaksaan, Ada Dugaan Kerugian Negara Capai Rp3,5 Miliar

Nova memaparkan jika modus yang dilakukan kedua tersangka tergolong sangat rapih sehingga bisa berjalan selama 2 tahun lebih. Bahkan berdasarkan hasil audit Inspektorat Kabupaten Tangerang, akibat perbuatan  kedua pelaku negara mengalami kerugian lebih dari Rp. 600 juta.

“Perbuatan tersangka YN membuat negara mengalami kerugian Rp270.469.631 dan dari perbuatan tersangka AD, negara merugi Rp365.122.440,” jelasnya.(Deri/Hendra)