Hotel dan Restauran di Kota Tangerang Mulai Bangkit, Setelah Mati Suri Dihajar Pandemi

oleh -
Jajaran Pengurus PHRI Kota Tangerang Usai Dilantik Beberapa Waktu Lalu- (Ist).

KOTA TANGERANG, REDAKSI24.COM– Bisnis hotel dan restoran di Kota Tangerang, Banten, mulai membaik seiring penurunan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Hal itu dapat terlihat dari tingkat hunian kamar hotel serta pengunjung di restoran yang mengalami peningkatan hingga 40 persen.

Meskipun belum mencapai target, peningkatan tersebut menjadi angin segar bagi para pelaku bisnis hotel dan restauran di kota Tangerang, setelah sempat mengalami mati suri di tengah pandemi COVID-19.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Tangerang, Oman Jumansyah menjelaskan, keterpurukan bisnis hotel dan restauran di Kota Tangerang terjadi sejak awal pandemi 2020 lalu. Berbagai kebijakan yang mengatur kegiatan masyarakat, aktivitas perdagangan hingga bisnis yang cukup ketat menjadi salah satu faktornya.

“Akhirnya teman-teman (anggota PHRI) mengikuti itu,” jelasnya saat dihubungi Redaksi24.com, Minggu (12/9/2021).

BACA JUGA: Datang Ke Tangerang, Tidak Perlu Bingung Cari Penginapan

Sebelum pandemi COVID-19, kata Oman, PHRI Kota Tangerang mampu memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp356 Miliar. “Awal Maret COVID-19 masuk tuh ya, masih enak, masih cukup, belum ada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM),” ujarnya.

“Begitu muncul PPKM baru terasa tuh semakin ketat kan, maka tingkat okupansi berkurang karena masyarakat juga enggan keluar rumah. Kedua memang aturan yang ketat, sehingga memang cukup menyulitkan juga buat pengusaha di Kota Tangerang,” imbuhnya.

Oman mengaku, stimulus yang diberikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sangat membantu bagi para pengusaha, meskipun dari prosentase hanya mencapai 60 persen saja serapan anggarannya. Hal itu karena beberapa hotel dan restoran terkendala pada Nomor Induk Berusaha (NIB).

“Uang itu digunakan untuk gaji, bayar hutang dan lain-lain,” katanya.

BACA JUGA: Menparekraf Buka Peluang Paket Wisata Sekolah dan Bekerja dari Tempat Liburan

Kendati demikian, hotel dan restauran di Kota Tangerang tetap mati suri, meskipun sempat bangkit atas kebijakan stimulus bagi hotel dan restaurant yang diberikan itu. Namun, pandemi COVID-19 sampai saat ini masih berlangsung, masih menjadi mimpi buruk keberlangsungan bisnis hotel dan restoran.

“Muncul lagi PPKM level 4 sampai sekarang, itu hampir 80 persen teman-teman tutup baik hotel dan restoran, tapi sekarang level 2 mulai agak membaik. Mudah-mudahan terus membaik ke zona hijau, jadi harapan kita bisnis hotel dan restoran menggeliat kembali,” ungkapnya.

Menurut Oman, selain kebijakan stimulus ekonomi dari Kemenparekraf, pemerintah daerah juga memberikan dukungan berupa vaksinasi bagi anggota PHRI dan keringanan pembayaran pajak. Hal itu bertujuan untuk menjaga iklim perekonomian kota tetap stabil.

“Anggota PHRI ada 28 hotel dan 4 restauran. Sampai saat ini tidak ada guling tikar cuma tutup aja, ada juga restoran masih tetep jalan. Sekarang okupansi dari 20 sampai 40 persen, meskipun jauh dari target, tapi ada tanda-tanda akan bangkit,” pungkasnya. (Candra/Aan).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.