HMI MPO Sebut Keberadaan Civitas Akademika Perguruan Tinggi di Lebak Sempit dan Tertutup

oleh -
Jajaran pengurus Komisariat Latansa Mashiro Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelemat Organisasi (HMI MPO).

REDAKSI24.COM— Ketua Komisariat Latansa Mashiro Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelemat Organisasi (HMI MPO) mengkritisi keberadaan civitas akademika di dalam dunia pendidikan perguruan tinggi di Kabupaten Lebak. Sahrul menganggap keberadaan civitas akademika di Lebak sangatlah sempit dan tertutup.

Sahrul menjelaskan, menurut PP No. 60 Tahun 1.999, civitas akademika merupakan suatu sikap kebebasan menyampaikan dan menyalurkan gagasan yang dimiliki para pelaku pendidikan terdiri dari siswa, guru, dosen, mahasiswa dan pihak lainya untuk melaksanakan kegiatan yang terkait dengan pendidikan, pengembangan  ilmu pengetahuan, dan teknologi secara bertanggungjawab dan mandiri. Namun sayangnya hal tersebut tidak terjadi di civitas akademika yang berada di Lebak

“Kebebasan tersebut hanya dapat dinikmati oleh segelintir pihak saja, dan sisanya masih terjerat dengan peraturan instansinya masing-masing,” kata Sahrul ketika ditemui di Sekretariat HMI MPO Lebak, Rangkasbitung ,Selasa (16/7/2019).

Sahrul mengatakan, saat ini keberadaan civitas akademika di Kabupaten Lebak merupakan suatu hal yang tabu. Dunia pendidikan di Kabupaten Lebak masih penuh dengan pengekangan para tokoh akademik. Siswa , mahasiswa, maupun penggiat literasi masih terkekang oleh peraturan-peraturan tidak tertulis, yang menyebabkan keterbatasan mereka dalam menyampaikan pendapat, inovasi dan kreativitas.

“Dalam upaya menyampaikan pendapatnya, para mahasiswa  masih dibayang-bayangi oleh pihak kampus. Kebebasan mereka dalam menyampaikan pendapat telah dikekang, bahkan kekangan tersebut seringkali di ikuti dengan ancaman demi ancaman oleh pihak tertentu,” tandasnya.

Menurut Sahrul, pengekangan tersebut haruslah segera dimusnahkan. Sehingga, para mahasiswa maupun pihak pendidikan lainnya dapat menyampaikan pendapat, dan berinovasi secara bebas. Hal tersebut, tentunya dapat menggali potensi yang ada pada diri pribadi masing-masing dan meningkatkan produktivitas para mahasiswa maupun pihak pendidikan lainnya.

” Selama ini kita hanya ibaratkan sebuah tanaman Bonsai. Tanaman cantik, namun tidak mengalami pertumbuhan apapun. Kita selama ini selalu dirawat, dirapihkan, dan dipupuk dalam jangka waktu yang tidak sediikit. Namun, setelah perawatan itu semua, kita tidak diperbolehkan untuk tumbuh dan berkembang. Walaupun kita tumbuh melewati apa yang mereka tentukan, tentunya mereka akan melakukan pemotongan, guna tanaman Bonsai tersebut tumbuh sesuai dengan tolak ukur mereka,” tegas Sahrul.

Menurut Sahrul, untuk menghancurkan pengekangan tersebut dibutuhkan kesepahaman antara dua pihak baik itu mahasiswa maupun pihak akademik. Mereka dituntut untuk paham terlebih dahulu mengenai apa itu arti civitas akademika, dan seperti apa pelaksanaannya. Jika kesepahaman tersebut telah dibangun, dipastikan dapat menciptakan suatu siklus pendidikan yang hidup, dimana para mahasiswa maupun pihak pendidikan lainnya dapat secara bebas berkreasi, serta menyampaikan pendapat, dan pihak akademik sendiri dapat menjalankan fungsi dengan sewajarnya yakni mengarahkan, membimbing, dan melakukan pengembangan SDM dengan membantu para mahasiswanya dalam merealisasikan ide-ide kreatif mereka “Dengan robohnya pengekangan tersebut, dipastikan dapat melahirkan para tokoh-tokoh intelektual yang nantinya akan menjadi tokoh penggerak Bangsa,” pungkasnya. (Yusuf/Hendra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.