Gula Aren Lebak Laku Keras Saat Pandemi Tapi Pasoknya Langka

  • Whatsapp
Permintaan gula aren di Lebak meningkat saat pandemi
Salah satu gerai di Pasar Rangkasbitung Lebak Banten, yang menjual aneka produk gula olahan berbahan baku gula aren.

KABUPATEN LEBAK, REDAKSI24.COM–Penjualan gula aren saat pandemi Covid-19 di Kabupaten Lebak, Banten cenderung meningkat, namun pasok komoditas tersebut langka  sehingga pedangang pun kewalahan memenuhi permintaan pasar .

“Terus terang saat ini kami sudah tidak mampu memenuhi permintaan pasar karena sulitnya gula aren didapati,”ungkap Fahri (60), seorang pedagang di Pasar Rangkasbitung, Lebak, Senin.

Bacaan Lainnya

Kata Fahri, permintaan gula aren tersebut  kebanyakan untuk dijadikan bahan campuran minuman jahe, gula semut,  juga  kerajinan aneka makanan kuliner.

Namun, menurutnya, beberapa bulan terakhir saat pandemi ini penjualannya sangat laku lantaran  pembeli mempercayai bahwa campuran gula aren bisa memperkuat ketahanan tubuh dan dapat mencegah penyebaran penyakit corona.

BACA JUGA:Bulog Jamin Stok Beras Lebak-Pandeglang Aman Hingga Desember

Tingginya permintaan di pasar-pasar  di Lebak itu menyebabkan harganya juga melonjak dari sebelumnya untuk satu kojor  (satu ikat) berisi lima bulatan  Rp25 ribu kini  naik menjadi Rp75 ribu.”Bingung juga sih kita meladeni permintaan pasar,  barangnya langka,”imbuhnya.

Andi (35), pedagang lainnya di Pasar Rangkasbitung, mengatakan, dirinya kini tidak bisa lagi memenuhi permintaan dari luar daerah Lebak karena stoknya sudah menipis. Padahal, lanjut dia, daerah ini memilik sejumlah sentra pengrajin gula aren yang tersebar di Kecamatan Sobang, Cigemblong, Muncang, Cijaku, Cilongrang dan Cibeber.

“Sebulan ini permintaan pasar lebih dari lima ton, namun kami hanya bisa penuhi satu ton karena seretnya pasok dari perajin,”aku  Andi.

Diketahui  gula aren dari Lebak cukup terkenal karena merupakan produk perkebunan aren organik yang tumbuh di pegunungan dan dataran tinggi. Rasanya pun  manis alami, beraroma harum, dan bertahan lama tanpa bahan pengawet.

Sedangkan Anwar (60), pemilik usaha agen besar di Rangkasbitung yang mengaku penampung pasok gula aren dari sedikitnya 1.000 perajin, juga kewalahan memenuhi permintaan pasar.

“Sudah setahun ini saya tidak melakukan  ekspor  ke Australia dan Belanda, ya barangnya langka,”imbunya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Dedi Rahmat, tak menampik berkuranynya pasok komoditas  itu.

Kendati demikian, kata dia, Pemerintah Kabupaten Lebak tetap memberikan pembinaan dan pelatihan agar pengrajin tetap menjaga kualitas produksinya.

“Kami mendorong ke depannya komoditas ini menjadi andalan ekonomi masyarakat sekaligus bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga pengrajinnya,” kata Dedi. (Mansyur/Ant/Jaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.