Gubernur Kepri Bukan Produk Pilkada, Kok Bisa. Ini Kronologinya!

  • Whatsapp
Pelantikan.Gubernur.Kepri.Isdianto

TANJUNGPINANG, REDAKSI24.COM – Ini rekor pertama dalam catatan perjalanan  rezim pilkada langsung di Indoneasi di era otonomi daerah dimana ada seorang gubernur menduduki tampuk pemerintahan provinsi tanpa melalui pilkada. Fakta ini terjadi di Provinsi Kepri (Kepulauan Riau), dan Isdianto adalah gubernur dimaksud.

Isdianto dilantik dan diambil sumpah oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin kemarin. Pengukuhan Isdianto sebagai gubernur didasarkan Kepres Nomor 71/P tahun 2020 tentang Pengesahan Pemberhentian dengan Hormat Wakil Gubernur Kepulauan Riau Sisa Masa Jabatan Tahun 2016-2021 dan Pengesahan Pengangkatan Gubernur Kepulauan Riau Sisa Masa Jabatan Tahun 2016-2021

Bacaan Lainnya

“Demi Allah saya bersumpah, akan memenuhi kewajiban saya sebagai gubernur dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Memegang teguh UUD Negara RI Tahun 1945 dan menjalankan segala UU dan peraturannya dengan selurus-lurusnya, serta berbakti kepada masyarakat, Nusa, dan Bangsa,” demikian Isdianto mengangkat sumpah dipandu Presiden Jokowi

Maka syahlah Isdianto jadi orang nomor 1 di Pemprov Kepri. Sesungguhnya jabatan tersebut diraih Isdianto bukan melalui pesta demokrasi langsung pemilihan kepala daerah (pilkada). Artinya, dia bukanlah produk dari proses penyerahan mandat rakyat melalui pemilihan langsung di pilkada.

Lha kok bisa terjadi? Inilah kronologi singkat Isdianto menggapai kedudukan terhormat sebagai gubernur.

Naiknya Isdianto sekaligus menorehkan catatan baru dimana dalam satu periode Kepri dipimpin  tiga gubernur, yakni HM. Sani (almarhum), Nurdin Basirun, dan Isdianto. Isdianto sendiri merupakan adik kandung mendiang HM Sani.

Sani, abang kandung dari Isdianto, berhasil memenangkan Pilkada 2015 dengan menggadeng Nurdin Basirun sebagai calon wakil gubernur. Jadilah mereka sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur terpilih

Keduanya dilantik 12 Februari 2016 sebagai pimpinan daerah Provinsi Kepri. Namun Sani yang sudah dua periode menjabat Gubernur Kepri tutup usia pada 8 April 2016. Jabatan gubernur pun pun beralih ke Nurdin Basirun.

Naiknya Nurdin otomatis kursi wakil gubernur kosong. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Isdianto untuk menempati jabatan wagub.

Ketika itu Isdianto masih menjabat sebagai pejabat Eselon II Pemprov Kepri. Lantaran ada peluang, dia lantas mendaftarkan dirinya sebagai Wakil Gubernur Kepri setelah mendapat dukungan dari empat partai pengusung HM Sani-Nurdin Basirun,  yakni Demokrat, Nasdem, PPP dan PKB.

Rupanya pergulatan politik yang terjadi di Kepri sejak pertengahan 2016 hingga awal 2018  tidak memuluskan karir Isdianto dalam mendapatkan posisi wagub. Dia pun banting stir masuk ke PDIP demi melancarkan langkahnya menduduki jabatan itu mendampingi Gubernur Nurdin Basirun.

Sang nasib akhirnya berpihak kepadanya, 27 Maret 2018 Isdianto berhasil menggapai posisi sebagai Wakil Gubernur Kepri dari kader PDIP.

Keberuntungan kedua pun menghampiri Isdianto ketika  dia ditetapkan untuk menjabat sebagai Plt (Pelaksana tugas) Gubernur Kepri menyusul ditangkapnya Nurdin Basirun oleh lembaga anti-rasuah KPK pada 10 Juli 2019.

Di sisi lain, spektrum politik di Kepri pasca Isdianto jadi Plt Gubernur berangsur-angsur mengalami perubahan. Hubungannya dengan pengurus PDIP tak lagi harmonis yang berujung dikeluarkan Isdianto dari PDIP menjelang Pilkada Kepri 2020.

Kendati begitu, Isdianto hanya tinggal selangkah lagi jadi gubernur definitif. Jalan ke posisi itu sudah sangat terbuka baginya.

Pada 9 April 2020, Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis empat tahun penjara kepada Nurdin Basirun. Dan pada 27 Juli 2020, Isdianto resmi dilantik sebagai Gubernur Kepri defintif setelah satu tahun menduduki  kursi Plt Gubernur.

Pengamat politik di Kepri, Endri Sanopaka, menilai, naiknya Isdianto di tampuk pimpinan di provinsi itu sebagai fenomena baru karena lahir bukan dari hasil pilkada. “Saya kira ini sejarah baru era otonomi daerah yang belum pernah terjadi di tanah air. Tentu ini unik,”ujar Endri yang juga Ketua Sekolah tinggi Ilmu Sosial da Ilmu Politik Raja Haji Tanjungpinang, di Tanjungpinang, Selasa (28/07/2020).

Selain bukan produk pilkada, menurutnya, fenomena naiknya Isdianto ke kursi gubernur juga memunculkan keunikan lainnya yang mungkin dapat dianggap negatif yakni dalam satu periode (2015-2020) terdapat tiga orang berbeda yang menjadi Gubernur Kepri,  yakni HM Sani (almarhum), Nurdin Basirun dan Isdianto. Isdianto merupakan adik kandung dari Sani.

“Dalam satu periode pun ada abang dan adik yang memimpin Kepri,”tuturnya.
Dijelaskan, dalam perspektif politik, karir Isdianto hingga menjabat sebagai Gubernur Kepri, menarik untuk diteliti. Isdianto menggunakan saluran selain pilkada untuk menggapai cita-citanya.(Nikolas/Ant/Jaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.