Gubernur Banten Berang Disebut Gagap Bencana

oleh -
tinjau banjir lebak
Gubernur Banten Wahidin Halim bersama Wakilnya Andika Hazrumy berdialog dengan warga korban banjir di Kecamatan Sajir, Lebak.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) berang terhadap pernyataan Ketua DPRD Banten Andra Soni yang menilai Pemprov Banten belum maksimal dalam menangani bencana alam di Kabupaten Lebak. Andra menyebut Pemprov Banten gagap bencana, karena tidak ada krisis center atau pusat data, baik korban jiwa maupun korban harga benda yang akurat sejak hari pertama bencana terjadi.

“Bilangin ke ketua dewannya. Jangan bilang gagap, gagap. Kami sejak hari pertama sudah siap siaga,” ujar WH, Kamis (9/1/2020).

Masih dalam suara meninggi WH melanjutkan, pihaknya mengaku sudah mendistribusikan bantuan logistik kepada korban bencana di Lebak. Bahkan dia mengaku keliling menyisir area yang terkena dampak bencana.

“Dimana-mana evakuasi itu tidak akan selesai dalam satu hari, terus kami validitasi data korban. Mana ada kejadian bencana selesai satu hari. Belum apa-apa ini udah bilang gagap-gagap,” ujarnya kesal.

BACA JUGA:

. Ribuan Korban Banjir Bandang di Lebak Mulai Terjangkit Berbagai Penyakit

. Pemprov Banten Fokus Tangani Infrastruktur Pasca Banjir

. Penanganan Bencana di Banten Dinilai Buruk

Disinggung soal Kepala BPBD Banten yang masih Plt sehingga tidak maksimal dalam menangani kebencanaan WH enggan mengomentarinya lebih lanjut. Ia tetap mengaku sudah terjun langsung ke lapangan dan memberikan bantuan logistik sejak hari pertama bencana.

“Jadi jangan asal ngomong. Yang kaya begitu diberitain,” ketusnya.

Fakta di lapangan, berdasarkan keterangan dari sejumlah relawan dan wartawan yang meliput sejak hari pertama bencana di Lebak, terjadi kesimpangsiuran data korban bencana, sehingga banyak data yang berbeda yang tersebar ke masyarakat.

“Kalau pada saat penanganan bencana tsunami Anyer 2018 lalu, pendataannya rapih. Setiap malam itu pasti ada rekapitulasi data korban yang dilakukan BPBD, sehingga datanya valid. Tapi pada bencana Lebak sama sekali tidak ada,” kata Yandi, seorang wartawan nasional yang meliput sejak hari pertama. (Luthfi/Difa)