GMNI Anggap Duet Irna-Tanto Gagal Pimpin Pandeglang

  • Whatsapp
GMNI
GMNI Cabang PAndeglang, Banten menilai duet Irna-Tanto telah gagal memimpin Pandeglang.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Puluhan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Pandeglang, mengkritisi kebijakan Bupati Pandeglang, Irna Narulita. Kritikan tersebut disampaikan melalui aksi unjukrasa di depan Kantor Bupati Pandeglang, Kamis (31/10/2019).

Dengan membawa atribut aksi, mulai dari bendera GMNI, spanduk, pamplet dan sound sistem, para mahasiswa melakukan orasi di depan Kantor Bupati Pandeglang. Dalam aksinya itu, mahasiswa menuntut agar Irna menepati janji politiknya yang hingga saat ini belum terealisasikan.

Bacaan Lainnya

Para pendemo menganggap duet Irna-Tanto gagal dalam menjalankan kepemimpinannya selama 4 tahun ini. Mereka menilai masih banyak janji politik yang tidak dijalankan, capaian indikator RPJMD tidak berbanding lurus dengan realitas yang ada.

Indra Patiwara, koordinator aksi dalam orasinya mengatakan, Irna-Tanto sebagai Bupati dan Wakil Bupati Pandeglang, punya visi misi yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Hal itu merupakan janji kepada masyarakat selama masa kepemimpinannya, sesuai Perda Nomor 7 Tahun 2016 tentang RPJMD.

“Namun ternyata kini Pandeglang masih mengalami ketertinggalan. Meskipun bupati menyebut Pandeglang sudah lepas dari status daerah tertinggal, tapi fakta di lapangan Pandeglang masih tertinggal,” ungkap Indra dalam orasinya.

BACA JUGA:

. Perang Opini Dua Trah Politik, GMNI Minta Tanggung Jawab Parpol

Menurutnya, selama 4 tahun memimpin Pandeglang, Irna dan Tanto tidak membawa perubahan Pandeglang ke arah yang signifikan. Karena kebutuhan dasar masyarakat Pandeglang, hingga saat ini belum terpenuhi maskimal.

“Masyarakat masih dihadapkan dengan infrastruktur jalan yang rusak. Pelayanan kesehatan yang buruk, kesenjangan sosial masih terjadi, seolah tidak punya sosluai kongkrit dalam membawa perubahan daerah ke arah yang lebih maju,” katanya.

Lanjut Indra, capaian indikator RPJMD harusnya berbanding lurus dengan realitas sosial. Namun pada faktanya, sesuai hasil analisis dan advokasi GMNI di Lapangan, tidak adanya pemerataan pembangunan. Terbukti dengan masih banyaknya akses jalan yang rusak, kemiskinan dan kesenjangan sosial lainnya.

“Apalagi di wilayah Pandeglang selatan. Masih banyak jalan rusak yang membuat masyarakat kewalahan dalam menjalankan aktivitas kesehariannya,” ujarnya.

Orator lainnya, Tubagus Ahmad Apandi mengaku, ketimpangan sosial nampak jelas, terbukti dengan adanya 9 orang di Pandeglang yang tinggal dalam gubuk reyot. Seperti yang terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cibaliung. Maka hal itu sudah menandakan, Irna Narulita telah gagal membangun Pandeglang.

“Kami anggap Bupati Irna Narulita dan wakilnya Tanto Warsono Arban telah gagal dalam mensejahterakan masyarakat. Pemerintah tidak memiliki Sense of Crisis,” tuturnya.

Disaat kemiskinan terjadi, pembangunan jalan yang tidak maksimal, malah bupati membeli mobil dinas baru, yang harganya cukup fantastis. Harusnya fikirkan dulu kondisi masyarakat, utamakan apa yang menjadi kepentingan dan kebutuhan rakyat.

“Kami minta para anggota DPRD Pandeglang yang baru juga harus jadi garda terdepan dalam mengawal kepentingan rakyat. Jangan mandul, awasi setiap kebijakan eksekutif,” tandasnya. (Samsul Fathoni/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.