Gencatan Senjata Palestina-Israel Rapuh Perang Bisa Kembali Pecah

oleh -
gencatan senjata, palestina, israel, jalur gaza, konflik
Gencatan senjata Palestina-Israel dianggap masih rapuh, pertempuran sewaktu-waktu bisa kembali pecah/ Foto: Seorang pria Palestina berargumen dengan tentara Israel saat protes atas rencana Israel untuk aneksasi bagian yang diduduki di Tepi Barat, di Lembah Jordan, Rabu (24/6/2020)/Antara.

JAKARTA, REDAKSI24.COM–Gencatan senjata Palestina dan Israel dianggap masih rapuh, dan sewaktu-waktu pertempuran di Jalur Gaza itu bisa kembali pecah.

Kesepakatan gencatan senjata Palestina-Israel tercapai pada Jumat (21/5) dimulai pukul 02.00 waktu setempat, setelah pertempuran hebat terjadi selama 11 hari di Gaza.

Dan hanya dalam hitungan jam, setelah shalat Jumat bentrokan terjadi antara aparat Israel dan jamaah Muslim di Al Aqsa.

Sedikitnya 20 warga Palestina terluka akibat bentrokan, yang dipicu demonstrasi untuk mendukung orang-orang Palestina di Jalur Gaza. Pasukan Israel berusaha membubarkan massa dengan menembakkan granat kejut ke arah para demonstran.

“Kami tahu bahwa gencatan senjata ini rapuh. Pada hari pertama pelaksanaan gencatan senjata, pasukan pendudukan Israel kembali menargetkan jamaah di Masjid Al Aqsa,” kata Abeer Z Barakat, seorang dosen di University College of Applied Science di Jalur Gaza, dalam diskusi virtual tentang Palestina yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia, Sabtu (22/5/2021).

Aktivis Palestina tersebut menyampaikan, secara umum warga Palestina tidak lagi memercayai Israel karena negara penjajah itu tidak mematuhi perjanjian internasional, resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, ataupun berbagai kesepakatan yang telah dicapai untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan antara kedua negara itu.

Karena itu, menurut Abeer, meskipun gencatan senjata sudah disepakati, warga Palestina tahu bahwa setiap saat Israel bisa kembali melakukan pengeboman di Gaza.

“Kami sama sekali tidak aman. Kami tidak tahu kapan perang berikutnya akan datang,” ujar dia.

 

Membuka jalan bantuan kemanusiaan

Sementara itu, Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri RI Bagus Hendraning Kobarsyih mengatakan, jika merujuk pada peristiwa bentrokan antara aparat Israel dan jamaah Muslim di Al Aqsa, gencatan senjata Palestina-Israel memang rapuh.

“Gencatan senjata itu memang masih rapuh, tetapi tetap harus kita sambut sebagai salah satu cara untuk membuka jalan masuk bagi bantuan kemanusiaan,” ujar Bagus.

menurut Bagus, pentingnya akses masuk untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan sebelumnya ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dalam sesi debat Majelis Umum PBB yang khusus membahas situasi Palestina pada Kamis (20/5).

Karena serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan 232 orang, diantaranya 65 anak-anak dan 39 perempuan, serta menyebabkan lebih dari 1.900 orang terluka dan sekitar 10.000 orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

“Bantuan kemanusiaan sangat diperlukan saat ini karena akses air, gas, listrik terputus. Jalan-jalan rusak, sekolah dan rumah sakit hancur –ini jadi satu keprihatinan tersendiri,” kata Bagus.

Selain menyoroti akses bantuan kemanusiaan, Indonesia juga mendorong Palestina dan Israel untuk kembali ke meja perundingan demi mewujudkan perdamaian yang langgeng.(ejp)

Sumber: Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.