Gara-Gara Ini, Ribuan Wanita Muda di Pandeglang Pilih Menjanda

oleh -
perceraian
Ilustrasi - Kasus perceraian di Pengadilan Agama Pandeglang didominasi karena masalah ekonomi

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Kasus perceraian di Kabupaten Pandeglang, Banten, dari tahun ke tahun terus meningkat. Jumlahnya mencapai ribuan pasangan. Pada 2019 lalu saja, kasus perceraian yang diputus Pengadilan Agama (PA) Kelas II Pandeglang jumlahnya mencapai 1.818.

Sedangkan sampai pertengahan tahun 2020 ini, sebanyak 1.143 pasangan suami istri (pasutri) di kota badak itu harus bercerai. Mirisnya, kasus perceraian didominasi pada pasangan usia produktif alias pasangan muda.

Kepala Humas Pengadilan Agama (PA) Kelas II Pandeglang, Muhamad Jajuli mengakui dari tahun ke tahun kasus perceraian mencapai ribuan perkara. Dengan rata-rata perkaranya gugatan cerai yang diajukan istri.

Dikatakannya, dari kasus perceraian yang masuk ke PA Pandeglang kelas II, persoalan ekonomi mendominasi kasus gugatan cerai Pasutri. Secara mayoritas gugatan cerai tersebut 60 persen dilayangkan istri kepada suami.

“Ada juga yang disebabkan Wil (Wanita Idaman Lain) atau Pil (Pria Idaman Lain) dalam kasus perceraian itu,” katanya.

BACA JUGA: Sirine Disaster PLTU 2 Labuan Pandeglang Sebagai Persiapan Mitigasi Bencana

Diakuinya juga, kasus perceraian yang masuk ke PA Pandeglang didominasi kasus cerai muda. Seperti Pasutri yang baru setahun atau dua tahun menikah, tapi mereka merasa tidak lagi ada kecocokan sehingga melakukan gugatan cerai.

Jajuli menyebut pandemi covid-19 bukan menjadi faktor tingginya kasus perceraian di Pandeglang saat ini. Karena pada tahun 2019 lalu,  sebelum adanya pandemi covid-19, kasus perceraian jumlahnya sudah tinggi.

“Saya rasa bukan karena disebabkan pandemi covid-19 angka perceraian itu tinggi. Tapi rata-rata kasus perceraian yang masuk ke PA Pandeglang, didominasi masalah ekonomi keluarga,” tuturnya.

Sementara seorang pengunjung PA Pandeglang yang enggan menyebut namanya mengaku datang ke PA Pandeglang mendampingi saudara perempuannya melakukan gugatan cerai. Kata dia, gugatan cerai terpaksa dilakukan kakak perempuannya lantaran suaminya sudah tidak memberikan nafkah lahir dan bathin selama satu tahun.

“Selain itu juga suaminya (kakak perempuannya) melakukan tindakan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Saya hanya mengantar membuat gugatan cerai,” imbuhnya. (Samsul Fathoni/Difa)