Edhy Prabowo Siap Dihukum Mati Jika Terbukti Bersalah

  • Whatsapp
Edhy Prabowo Siap Dihukum Mati,Korupsi Ekspor Benur,Hukum Mati,KKP,KPK,jika terbukti bersalah
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan siap dijatuhi hukuman mati jika terbukti bersalah dalam kasus dugaan korupsi perizinan ekspor benur di KKP. (Foto: Antara)

JAKARTA, REDAKSI24.COMMantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo menyatakan siap dijatuhi hukuman mati jika dirinya terbukti besalah dalam kasus dugaan suap perizinan ekspor benih lobster (benur).

Edhy Prabowo sebagai tersangka dugaan korupsi perizinan ekspor benur mengaku siap bertanggungjawab dan tidak akan lari dari kesalahan.

Bacaan Lainnya

“Saya tetap tanggung jawab. Jangankan hukum mati, lebih dari itupun saya siap, yang penting demi masyarakat saya. Saya tidak bicara lantang dengan menutupi kesalahan, saya tidak berlari dari kesalahan yang ada. Silakan proses peradilan berjalan,” katanya, di Gedung KPK, Jakarta, Senin (22/2/2021).

Mantan orang nomor satu di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu mengklaim setiap kebijakan yang diambilnya, salah satunya soal perizinan ekspor benur semata-mata hanya untuk kepentingan masyarakat.

“Saya tidak bicara lebih baik atau tidak. Saya ingin menyempurnakan, intinya adalah setiap kebijakan yang saya ambil untuk kepentingan masyarakat. Kalau atas dasar masyarakat itu harus menanggung akibat akhirnya saya di penjara itu sudah risiko bagi saya, dan saya siap dijatuhi hukum mati jika terbukti bersalah,” ujar Edhy Prabowo.

Dia mencontohkan soal kebijakan yang dikeluarkannya terkait perizinan kapal.

“Anda liat izin kapal yang saya kekuarkan ada 4 ribu izin dalam waktu 1 tahun saya menjabat. Bandingkan yang sebelum yang tadinya izin sampai 14 hari saya bikin hanya 1 jam, banyak izin-izin lain,” ungkap dia.

Diketahui, KPK total menetapkan tujuh tersangka dalam kasus korupsi perizinan ekspor benur di KKP tersebut.

Sebagai penerima suap, yaitu Edhy, Staf Khusus Edhy sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Safri (SAF), Staf Khusus Edhy sekaligus Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Andreau Misanta Pribadi (AMP), Amiril Mukminin (AM) selaku sekretaris pribadi Edhy, pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK) Siswadi (SWD), dan Ainul Faqih (AF) selaku staf istri Edhy.

Sedangkan tersangka pemberi suap, yakni Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito yang saat ini sudah berstatus terdakwa dan dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Suharjito didakwa memberikan suap senilai total Rp2,146 miliar yang terdiri dari 103 ribu dolar AS (sekitar Rp1,44 miliar) dan Rp706.055.440 kepada Edhy.

Suap diberikan melalui perantaraan Safri dan Andreau selaku staf khusus Edhy, Amiril selaku sekretaris pribadi Edhy, Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy yang juga Anggota DPR RI Iis Rosita dan Siswadhi Pranoto Loe selaku Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) sekaligus pendiri PT ACK.

PT DPPP adalah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor dan impor produk pangan, antara lain Benih Bening Lobster (BBL), daging ayam, daging sapi, dan daging ikan. (Benardy Ferdiansyah/Ant/ejp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.