DLH Sebut Bau Busuk Sungai Ciujung Bukan Karena Limbah

oleh -
sungai ciujung
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang, Banten, Sri Budi Prihasto.

KABUPATEN SERANG, REDAKSI24.COM – Permasalahan Sungai Ciujung nampaknya tak kunjung selesai. Berbagai keluhan masyarakat hingga aksi demonstrasi Minum Air Limbah Sungai Ciujung yang digelar mahasiwa, merupakan bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten Serang.

Menyusul keluhan masyarakat tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang, Banten, Sri Budi Prihasto menilai, sah-sah saja masyarakat menyuarakan aspirasinya dengan cara berunjukrasa.

Namun, kata dia, pencemaran Sungai Ciujung tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perusahaan. Sebab, kata dia, pada musim kemarau debit sungai, termasuk Ciujung merosot drastis. Bahkan sampai mencapai titik nol.

“Banyak kalangan yang menyalahkan perusahaan sebagai sumber pencemaran karena sungai mengeluarkan bau tak sedap atau berwarna hitam pekat. Semua sungai pada umumnya mengendap ketika musim kemarau. Karena airnya tidak mengalir menimbulkan bau tak sedap,” katanya kepada wartawan di kantornya DLH Kabupaten Serang, Rabu (6/11/2019).

BACA JUGA:

. Desak Normalisasi, Mapala Banten Gelar Aksi Minum Air Sungai Ciujung

. Soal Pencemaran Ciujung, Tatu Ajak Mahasiswa Cari Solusi

. Soal Pencemaran Sungai Ciujung, Pemprov Banten Ngaku tak Punya Solusi

Budi menegaskan, pihaknya telah melakukan penagwasan terhadap sejumlah perusahaan yang berada di sekitar Sungai Ciujung. Pihaknya telah melarang perusahaan membuang limbahnya ke Sungai Ciujung, terlebih pada musim kemarau.

“Karena musim kemarau debit air nol yang menyebabkan bau busuk.  Kami setiap tiga bulan sekali meminta laporan pihak perusahaan dengan sample air Sungai Ciujung. Hasilnya pada oktober, air Sungai Ciujung dinyatakan masih baku mutu,” imbuhnya.

Pihaknya memastikan akan memberi sanksi administrasi sampai pada pencabutan izin kepada perusahaan yang kedapatan membuang air limbah saat debit air Sungai Ciujung nol. “Sejauh ini belum ada perusahaan yang dicabut izinya. Ada satu perusahaan yang mendapat sanski denda Rp600 juta,” ungkapnya.

Budi menyatakan,  pihaknya juga telah mengusulkan pengerukan atau normalisasi Sungai Ciujung agar air bisa mengalir lancer saat musim kemarau maupun musim penghujan. “Kami sudah mengusulkan pengerukan, sedang berlangsung sekarang ini,” tandasnya.(Adi/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *