DLH Klaim Kualitas Udara Kabupaten Serang Masih Baik

oleh -
DLH Kabupaten Serang
Kepala Seksi Penanggulangan Pencemaran Lingkungan DLH Kabupaten Serang, Banten, Muas Sisul.

KABUPATEN SERANG, REDAKSI24.COM – Meski hasil pengamatan untuk tahun 2019 baru keluar hasilnya pada Desember mendatang, namun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang mengaku optimis polusi udara di Kabupaten Serang masih dibawah baku mutu.

Kepala Seksi Penanggulangan Pencemaran Lingkungan DLH Kabupaten Serang, Muas Sisul mengatakan, polusi udara Serang bagian Selatan lebih baik dibanding Serang bagian Barat. Serang bagian selatan meliputi Kecamatan Padarincang, Pabuaran, Ciomas dan Kecamatan Petir.

“Sedangkan polusi udara bervariasi terjadi di Serang bagian Barat seperti Kecamatan Cikande, Kibin dan Keragilan,” katanya saat ditemui Redaksi24.com di kantornya, Selasa (5/11/2019).

BACA JUGA:

. Sambut Perpres 39 Tahun 2019, BPS Kabupaten Serang Kumpulkan OPD

. Desak Normalisasi, Mapala Banten Gelar Aksi Minum Air Sungai Ciujung

. Desak Normalisasi, Mapala Banten Gelar Aksi Minum Air Sungai Ciujung

Kondisi udara tersebut, menurut Muas, masih dibawah ambang batas. Artinya, kata dia, masih bisa ditolerir karena setiap parameter udara atau air punya ambang batasnya. Berdasarkan pengamatan, kata dia, tingkat polusi Kabupaten Serang masih dibawah ambang batas, baik NO2 maupun SO2.

“Kami melakukan pemantauan rutin setiap bulan dan kami katagorikan setiap kecamatan bergilir. Misalnya, Januari kecamatan A dan seterusnya sampai 29 kecamatan,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Muas, pihaknya melakukan pemantauan ke lokasi yang dianggap lebih besar tingkat pencemaran udaranya, khususnya di kawasan Serang Barat dan Timur. Di kedua kawasan itu terdapat aktivitas industri yang secara rutin dilakukan pemantauan sebanyak 6 kali dalam satu tahun.

“Tapi justru polusi udara di kawasan itu berasal dari knalpot truk. Namun dari hasil pantauan masih dibawah baku mutu,” jelasnya.

Muas menyebut pada Desember tahun 2018 polusi udara mencapai 67,80 khususnya di Pertigaan Anyer. Titik itu, kata dia, ternyata srategis dalam satu tahun dibandingkan dengan Serang Barat atau Timur.

Sedangkan untuk tahun 2019, lanjut Muas, pengambilan samplenya dilakukan pada  musim kemarau dan hujan. Pengambilan sampel mewakili dua musim yang berbeda, dan hasilnya bisa diketahui pada akhir tahun.

Pengambilan sampel, menurut Muas, bekerjasama dengan laboratorium udara yang bersertifikat, selain  juga melibatkan kementerian terkait. “Kami juga berencana menggelar diskusi dalam upaya menangani polusi udara,” tandasnya.(Adi/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *