Disperindag Kota Serang Siapkan Operasi Pasar Telur dan Ayam Potong

  • Whatsapp
harga telur kota serang
Pedagang telur di Pasar Induk Rau Kota Serang.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Usaha Kecil Menengah (UKK) Kota Serang, Banten, mengakui tidak stabilnya harga pada komoditas daging ayam potong dan telur. Hal itu karena pasokan kedua komodutas pokok itu yang berkurang.

Namun begitu, Kepala Disperindagkop UKM Kota Serang, Yoyo Wicahyono mengklaim tidak ada lonjakan harga yang terjadi pada kedua komoditas makanan pokok tersebut. Menurutnya, kenaikan harga daging ayam potong dan telur hanya pada kisaran Rp3000.

Bacaan Lainnya

“Kami juga akan lihat karena apa harga daging ayam dan telur tidak setabil, kadang naik kadang turun, dan sekarang naik lagi. Mungkin dari pasokannya juga,” katanya kepada wartawan di Kota Serang, Rabu (1/7/2020).

Yoyo berjanji pihaknya akan menggelar operasi pasar jika pasokan daging ayam potong dan telur terus berkurang. Sebab pihaknya menyadari bila pasokan berkurang akan mempengaruhi harganya.

“Kalau memang pasokanya masih kurang kami akan lakukan operasi pasar. Begitu juga telur untuk saat ini dari pasokan mempengaruhi harga,” janjinya.

BACA JUGA: Harga Ayam Potong dan Telur di Kota Serang Naik

Sebelumnya pedagang di Pasar Induk Rau (PIR) Kota Serang mengeluhkan kenaikan harga daging ayam dan telur yang cukup signifikan. Harga daging ayam dari semula Rp35.000 naik menjadi Rp40.000 per kilogram.

“Sekarang harga daging ayam naik Rp5.000. Yang tadinya Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilorgam,” kata pedagang ayam potong di PIR Kota Serang, Mustofa (30).

Termasuk harga telur yang naikan dari semula Rp24.000 menjadi Rp27.000 perkilogram. Pedagang menyebut kenaikan ahrga disebabkan karena pasokannya yang berkurang. “Biasanya harga naik dari distributornya,” ungkap Siti Azijah (27), pedagang telur.

Kenaikan harga daging ayam dan telur juga dikeluhkan para pembeli. Mereka berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Serang melakukan upaya untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok, terlebih pada masa transisi new normal covid-19 agar tiak membebani masyarakat.(Adi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.