Disiksa Anak Buah Kapal Saat PKL, 15 Siswa SMKN 3 Pandeglang Kabur dari Timika Papua

oleh -
pkl
EliEli Suhari, (tengah) siswa SMKN 3 Pandeglang yang berhasil kabur dari tempat PKL di Timika, Papua.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Sebanyak 15 siswa SMKN 3 Pandeglang, Banten, terpaksa kabur dari kapal penangkapan ikan tempat mereka Praktek Kerja Lapangan (PKL) di  Timika, Papua. Mereka kabur karena tidak tahan kerap mendapat perlakuan kasar dari anak buah kapal (ABK) tempat mereka PKL.

Informasi yang dihimpun Redaksi24.com, siswa SMKN 3 Pandeglang yang ikut menjalankan program PKL dari sekolah di kapal penangkapan ikan di Daerah Juanda, Jawa Tengah, seluruhnya berjumlah sebanyak 42 orang.

Mereka dibagi menjadi dua kelompok, untuk bekerja magang di kapal penangkapan ikan menuju perairan Timika Papua. Sebanyak 15 siswa pulang dari tempat PKL, dan sebagian lagi  masih menjalankan kegiatan PKL di kapal penangkapan ikan tersebut.

Salah seorang siswa SMKN 3 Pandeglang yang kabur dari kapal PKL, Eli Suhari mengungkapkan, ia bersama rekan-rekannya menjalankan program PKL dari sekolah. Ia melaksanakan PKL di kapal penangkapan ikan dari Juanda Jawa Tengah menuju Papua. Namun selama di atas kapal, mereka kerap mendapatkan perlakukan tidak manusiawi dari ABK tersebut.

“Kami sering dipukul, ditampar dan diperlakukan tidak manusiawi. Karena kami tidak tahan, kami berinisiatif kabur dari tempat PKL,” ungkap Eli Suhari, saat ditemui di kediamannya Kampung Laba, Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten, Selasa (5/11/2019).

BACA JUGA:

. Ketua OSIS MA dan MTs Syekh Manshur Pandeglang Dipilih Melalui Pemilu

. Efendi, Manusia Gerobak Pandeglang, Memulung Sambil Ngemong Anak

. Irna Jamin Keamanan Pelajar Papua di Pandeglang

Menurut Eli, saat akan kabur dari kapal, ia dan teman-temannya beralasan hendak pergi ke pasar membeli pakaian. Karena kapal sedang bersandar di Pelabuhan Pemako, Papua. Setelah mendapatkan izin dari armada, ia berbarengan ke pasar lalu pergi mencari angkutan umum.

Sebelumnya, kata dia, mereka sempat berkomunikasi dan menceritakan peristiwa itu kepada seorang sopir taksi. Karena itu, setelah keluar dari kapal, mereka  langsung menghubungi sopir taksi itu.

“Tidak lama sopir taksi menjemput kami di sekitar pasar,” jelas Eli seraya mengakui meminta bantuan kepada sopir taksi tersebut untuk membawa mereka ke tempat yang lebih aman. Lalu sopir taksi itu membawa mereka ke rumah kos teman sopir taksi tersebut di Timika. “Kami diamankan sebelum berangkat pulang ke Pandeglang,” ujarnya.

Selama beberapa hari dalam pelarian, kata Eli, ia mendapatkan bantuan dari paguyuban Pasundan dan Paguyuban KKBJ untuk bisa pulang ke Pandeglang. Ia dan siswa lainnya dibantu dan difasilitasi untuk pulang menggunakan pesawat.

“Kami naik pesawat dari Timika ke Bandara (Soekanro-Hatta). Kami dipesankan tiket oleh sekolah, namun biaya tiketnya iuran,” katanya.

Sementara itu, salah satu orang tua siswa, Asep Komarudin mengaku sedih dan prihatin atas apa yang dialami anaknya saat menjalankan program PKL dari sekolah. Namun ia bersyukur, anaknya bisa pulang lagi dengan  selamat ke rumah.

“Saya khawatir anak saya kenapa-napa di sana (tempat PKL). Karena sebelumnya kami mendapat kabar anak kami terlantar. Tapi, Alhamdulillah sekarang sudah pulang,” ujarnya.

Saat ditanya apakah pihak sekolah sudah ada yang datang ke rumahnya? Ia mengaku belum ada. “Belum ada yang ke sini,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala SMKN 3 Pandeglang, Susila saat dihubungi melalui sambungan telepon, belum bisa memberikan penjelasan terkait peristiwa yang dialami belasan siswanya tersebut. Ia mengaku sedang dalam perjalanan. “Saya sedang di mobil umum. Nanti saya kabari lagi,” imbuhnya.(Samsul Fathoni/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *