Dinkes Kota Serang Sebut Stunting Tak Bisa Dihilangkan

  • Whatsapp
kasus stunting Kota serang
Kepala Dinas Kesehatan Kota Serang, Banten, M Ikbal.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Kasus stunting sudah menjadi isu nasional. Pada tahun 2019 angka stunting secara nasional tidak boleh lebih dari 28 persen. Mulai dari pemerintah pusat, provinsi dan daerah, terus berupaya menurunkan angka kasus stunting di masing-masing daerah.

“Kota Serang 5,8 persen, kami  jauh lebih kecil dari pada target nasional termasuk provinsi,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, Banten, M Ikbal kepada wartawan di kantornya, Sabtu (8/2/2020).

Bacaan Lainnya

Namun Ikbal tidak menafikan kasus stunting di Kota Serang belum bisa dituntaskan. Kasus stunting, menurutnya, akan terus muncul selama masih ada warga yang hidup dibawah garis kemiskinan. Kasus stunting tidak akan bisa hilang seratus persen.

“Stunting dari tahun 2019 ke 2020 ini menurun, angka gizi buruk  juga kurang, dari 110 menjadi 72 orang yang sudah kami selesaikan, dari gizi buruk menjadi gizi kurus, dari gizi kurus menjadi gizi normal. Kalau stunting itu krusial menjadi masalah dari hulu ke hilir, karena stunting harus ditangani di usia remaja,” imbuhnya.

Ikbal menyarankan, kalau punya anak remaja putri, hendaknya dibiasakan untuk sarapan ketika berangkat sekolah. Kata dia, orang tua tidak boleh lalai dengan hanya memberi uang jajan. Oleh si anak tidak dibelikan makan, justru dibelikan jajanan dan sebaginya.

“Berdasarkan survei kami angka endemis untuk anak sekolah sudah mulai bagus, dari 60 menjadi 70 persen, ada kenaikan,” jelasnya.

BACA JUGA:

. Pemkot Serang Belum Mampu Entaskan Banjir, Stunting dan Gizi Buruk

. Pemerintah Pusat dan Daerah Bersinergi Tangani Stunting

. Minim SDM, Pelayanan Kesehatan di Kota Serang Belum Maksimal

Maka mengurangi angka stunting, sambung Ikbal, dimulai dari remaja, pastikan gizinya cukup sampai usia pra nikah, kemudian mennikah, hamil, sampai punya bayi. Begitu seterusnya siklus stunting. Jika gizinya cukup, menurut Ikbal, akan lahir bayi yang diyakini tidak kerdil.

“Kalau target 2020 kami setinggi-tingginya, tapi kalau nol persen itu gak mungkin, karena kemiskinan berdasarkan data BPS ada kenaikan 5 koma sekian persen, ini berbanding lurus dengan daya jual beli masyarakat,” sambungnya.

Ikbal menjelaskan, penanganan stunting harus dari hulu ke hilir. Hulunya adalah jual beli masyarakatnya atau ketahanan pangannya, kalau ada yang stunting maka harus diberi makanan tambahan.

“Bandingkan warga komplek dan perkampungan, kalau di komplek hampir tidak ada anak stunting, di komplek hampir tidak ada namanya gizi kurus, termasuk gizi buruk. Namun dicperkampungan, mudah sekali ditemukan kasus gizi buruk, gizi kurus dan stunting, karena kemampuan daya beli orang tua berbeda,” tandas Ikbal.(Adi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.