Dindikbud Pandeglang Akui Proses Belajar Dari Rumah Belum Optimal

  • Whatsapp
Dindikbud Pandeglang
Kepala Dindikbud Pandeglang, Banten, Taufik Hidayat.

PANDEGLANG, REDKASI24.COM – Meki sudah melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru di setiap sekolah Pandeglang, namun siswa masih harus menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Belajar Dari Rumah (BDR). Namun program BDR bagi siswa dinilai belum optimal karena dilaksanakan serba dalam keterbatasan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pandeglang, Taufik Hidayat mengatakan, setelah selesai PPDP pihak sekolah telah menjalankan MPLS bagi para siswa baru. Namun, kata Taufik, setelah MPLS itu selesai para siswa kembali melaksanakan BDR.

Bacaan Lainnya

“Untuk KBM siswa masih dilakukan dari rumah, melalui daring dengan menggunakan metode baru, yaitu menggunakan aplikasi google classroom,” ungkap Taufik saat ditemui usai melaksanakan sosialisasi program BDR siswa di Gedung PGRI Kecamatan Cikeudal, Rabu (22/7/2020).

Diakuinya, proses BDR siswa di Pandeglang dirasa belum optimal, karena banyaknya kendala di lapangan. Karena tidak semua orang tua siswa atau siswa memiliki telpon android. Selain itu, tidak semua kecamatan di Pandeglang mempunyai akses internet.

“Memang sejujurnya yang menjadi permasalah dalam proses BDR siswa di Pandeglang, karena ada keterbatasan, baik terhadap para wali murid maupun jaringan internet. Seperti ada siswa punya android tapi akses internetnya tidak terjangkau, ada siswa pada jalur intenet bagus tapi tidak punya sarana android,” ujarnya.

BACA JUGA: Emas Habis, Ratusan Pekerja Tambang PT CSD Pandeglang Di-PHK

Namun, lanjut Taufik, dengan adanya berbagai permasalahan di lapangan mengenai BDR itu, pihaknya menggunakan dua metode pembelajaran, diantaranya melalui daring dan guru mendatangi langsung ke rumah siswa.

“Bagi siswa yang tidak memiliki android atau tidak bisa mengakses internet, maka guru melakukan kunjungan ke rumah siswa,” katanya.

Menurutnya, sekarang ini sekolah tengah melakukan berbagai persiapan dalam proses BDR gelombang kedua. Seperti para dewan guru mempersiapkan bahan ajar yang akan disampaikan kepada para siswa selama menjalani proses belajar dari rumah itu.

“Intinya dengan kondisi di Pandeglang yang masih memiliki keterbatasan dalam melaksankan KBM dari rumah. Kami terapkan dua metode itu, baik melalui online maupun offline,” tuturnya.

Saat ditanya bagaimana hasil evaluasi dari program belajar dari rumah pada bagi gelombang pertama, Taufik mengaku para siswa tidak ada yang tidak lulus ataupun tidak ada juga yang tidak naik kelas. Karena pada proses pembelajaran siswa dari rumah itu tidak dikaitkan dengan kurikulum.

“Pada masa pembelajaran dari rumah yang sebelumnya tidak dikaitkan dengan kurikulum. Tapi untuk yang sekarang akan lebih ditingkatkan lagi, meskipun tetap tidak menggunakan kurikulum,” ungkapnya.

Sementara, seorang Guru SDN Babakanlor 4 Kecamatan Cikeudal, Hidayat mengaku, sistem pembelajaran siswa di sekolahnya tidak belajar dari rumah. Tapi melaksanakan pembelajaran di sekolah, dengan mekanisme pembagian siswa pada proses pembelajaran dalam setiap harinya. Dengan jumlah siswa sebanyak 14 orang per hari.

“Alasan kami tetap menjalankan pembelajaran siswa di sekolah, karena akses internet siswa tidak terjangkau. Proses pembelajaran siswa dilakukan di sekolah, karena di sekolah ada jaringan internet yang bisa diakses siswa,” tandasnya.(Samsul Fathoni/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.