Dihujani Polusi Debu, Nenek di Pakuhaji Ini Tak Pernah Menikmati Bansos

oleh -
Dihujani Polusi Debu, Nenek di Pakuhaji Ini Tak Pernah Menikmati Bansos kabupaten tangerang banten
Nenek 80 tahun itu juga mengaku tidak pernah mendapatkan program Bansos dari pengusaha maupun pemerintah, terlebih bantuan langsung tunai (BLT) yang saat ini tengah "booming" akibat dampak COVID-19.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Miris, begitu ungkapan yang pas ditujukan bagi Maymunah. Wanita berusia 80 tahun warga Kampung Kamal RT 04 RW 05 Desa Gaga, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten itu, harus menikmati masa tuanya dengan berbagai keterbatasan hidup.

Di usia senjanya, Nenek May–begitu dia dipanggil–luput dari perhatian pemerintah, mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, terlebih lagi dari pemerintah pusat. Tidak heran jika Nenek May tidak pernah merasakan nikmatnya mendapat bantuan sosial (Bansos).

Semestinya usia senja seperti Maymunah ini waktunya untuk menikmati masa tua bersama keluarga. Namun Nenek May tinggal seorang diri tanpa ada keluarga terdekat menemani di rumahnya yang lebih layak disebut gubuk.

Mempunyai rumah yang aman dan nyaman merupakan impian bagi Nenek May. Setelah suaminya meninggal, Maymunah mengaku harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

“Saya punya anak dua orang laki-laki, tapi sekarang sudah berkeluarga, sudah pisah rumah dan tinggalnya jauh,” ungkap Maymunah saat disambangi di kediamannya Rabu (24/11/2021).

BACA JUGA: Polusi Debu Pabrik Plafon di Pakuhaji Terus Berlanjut, Warga Tuntut Kompensasi

Nenek 80 tahun itu juga mengaku tidak pernah mendapatkan program Bansos dari pengusaha maupun pemerintah, terlebih bantuan langsung tunai (BLT) yang saat ini tengah “booming” akibat dampak COVID-19.

“Nggak pernah dapat bantuan apa-apa dari pemerintah,” akunya sambil memperlihatkan bukti identitas diri berupa KTP miliknya.

Gubuk reyot berukuran 3 X 6 meter persegi tempat tinggal Nenek May tepat berdampingan dengan pabrik plafon yang selama ini dikeluhkan warga lantaran diduga telah menimbulkan polusi debu mengandung resin. Dinding rumahnya menggunakan bilik bambu bercampur papan dan tiang kayu.

Sedangkan atap rumahnya terbuat dari kayu beralas seng, yang sudah berlubang termakan usia. Ketika musim panas, cahaya matahari tembus ke dalam gubuk derita Nenek May. Jika hujan, Nenek May harus kerepotan menempati wadah di setiap sudut gubuk untuk menampung air yang mengucur dari atap.

Maymunah juga mengaku tidak sanggup memperbaiki gubuknya, karena tidak punya biaya. Jangankan untuk memperbaiki gubuk, untuk biaya makan sehari-hari saja Nenek May kesulitan. Tanpa bantuan Pemkab Tangerang, Pemprov Banten, atau  wakil rakyat, punya rumah layak huni bagi Nenek May tak akan pernah terwujud.

BACA JUGA: Debu Pabrik Plafon di Pakuhaji Bikin Warga Sesak Nafas

Nenek May berharap ada bantuan atau perhatian dari pemerintah untuk meringankan beban hidupnya seperti Bantuan sosial Tunai (BST) maupun bedah rumah.

“Kalau ada bantuan dari pemerintah, ya saya terima, tapi sampai saat ini nenek belum terima apa-apa,” akunya dengan mimik wajah polos.

Tidak ada barang berharga di dalam gubuk derita Nenek May. Hanya sebuah balai bambu yang digunakan Nenek May untuk merebahkan tubuhnya yang sudah renta.

Jika malam, Nenek May mengaku terganggu deru mesin pabrik plafon milik PT Adi Jaya Makmur Sejahtera. Derita Nenek May bertambah dengan adanya polusi debu yang diduga berasal dari aktivitas produksi pabrik plafon tersebut.(RM1/Difa)

No More Posts Available.

No more pages to load.