Diduga Perdagangkan Orang Karaoke Venesia Di BSD Serpong Digerebek Bareskrim

oleh -
Ferdy Sambo
Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Ferdy Sambo (kanan) memimpin penggerebekan karaoke eksekutif Venesia BSD di Serpong , Tangsel, Banten, yang diduga memperdagangkan orang, Rabu (19/8/2020) malam.

JAKARTA, REDAKSI24.COM—Direktur TPU (Tindak Pidana Umum) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Ferdy Sambo memimpin penggerebekan karaoke eksekutif Venesia BSD di Serpong, Kota Tangsel (Tangerang Selatan), Banten, yang diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), Rabu (19/8) malam.

Dugaan TPPO di karaoke itu  dilakukan dengan modus eksploitasi seksual pada masa pandemi COVID-19.

Karaoke eksekutif tersebut diketahui telah beroperasi sejak awal Juni 2020. Tempat hiburan malam ini diduga memfasilitasi layanan seks bagi para pelanggannya.

Menurut Sambo, beroperasinya tempat hiburan itu melanggar Pasal 9 Ayat (1) dan (2) Peraturan Walikota Tangsel Nomor 32 Tahun 2020 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Walikota Tangsel Nomor 13 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Penanganan COVID-19.

“Pasal 9 Ayat (1) menyebutkan bahwa selama pemberlakuan PSBB, dilakukan penghentian sementara aktivitas bekerja di tempat kerja/ kantor,”ujar Sambo, Kamis (20/08) dini hari.

Kota Tangsel hingga kini masih memberlakukan perpanjangan masa PSBB mulai 9 Agustus hingga 23 Agustus 2020.

Para perempuan yang bekerja di karaoke eksekutif Venesia BSD ini tercatat ada 47 orang.
“Mereka berasal dari Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur, jumlahnya sebanyak 47 orang,” jelas Sambo, pati Polri bintang satu yang memimpin langsung penggerebekan itu.

Pasca penggerebekan, dari karaoke itu polisi mengamankan 13 orang yang terdiri dari tujuh orang mucikari, tiga kasir, satu supervisor, satu manajer operasional dan satu general manager.

Sedangkan barang bukti yang disita penyidik Bareskrim diantaranya kwitansi dua bundel, satu bundel voucher “ladies” tertanggal 19 Agustus 2020, uang Rp730.000 yang merupakan uang bookingan “ladies” mulai dari 1 Agustus 2020, 3 unit mesin EDC dan 12 kotak alat kontrasepsi.

Selain itu ditemukan satu bundel form penerimaan “ladies”, satu bundel absensi “ladies”, tiga unit komputer, satu mesin penghitung uang, tiga unit printer, 14 baju kimono sebagai kostum pekerja dan dua lembar kwitansi hotel tertanggal 19 Agustus 2020. (Anita/Ant/Jaya)