Dicap Kampung Esek-Esek, Warga Medang Lestari Resah

  • Whatsapp
kampung esek-esek Perumahan Medang Lestari
Sejumlah warga Perumahan Ledang Lestari, Kabupaten Tangerang memasang spanduk anti maksiat.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Warga Perumahan Medang Lestari, Kelurahan Medang, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang belakangan ini resah lantaran mendapat stigma atau cap sebagai ‘kampung esek-esek‘ hingga Medang Las Vegas dan Alexis.

Stigma tersebut muncul secara omongan dari warga dari mulut ke mulut hingga media sosial (Medsos). Stigma negatif itu muncul menyusul ramainya usaha penginapan berupa kos-kosan dan hostel di kawasan tersebut yang diduga menjadi tempat prostitusi terselubung.

Bacaan Lainnya

Kini, warga yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masjid Mushola dan Masyarakat Medang Lestari (FOKM4L), menuntut pemerintah, dari tingkat RW, Kelurahan, Kecamatan dan Kabupaten Tangerang untuk menertibkan kosan atau penginapan yang diduga menjadi pusat maksiat.

Akibat resah yang tak terbendung, sejumlah warga kemudian membuat spanduk bertuliskan peringatan keras ‘Awasi Penginapan dan Kosan dari Narkoba, Perzinahan dan Minuman Keras’. Tetapi, spanduk yang dipasang di tempat yang strategis itu, kemudian dianggap meresahkan sejumlah warga lainnya dan lalu ditertibkan petugas Satpol PP Kecamatan Pagedangan.

“Spanduk kami buat dua hari menjelang lebaran (Idul Fitri) dan saat lebaran kami pasang satu spanduk. Tetapi, karena gerakan masyarakat ini enggak tertahan akhirnya spanduk semakin banyak dan dipasang di tempat startegis,” kata Ketua FOKM4L Hari Agusti, di Masjid Umma, Jumat (12/6/2020) sore.

Hari pun tidak menampik jika stigma ‘kampung esek-esek’, karena aktivitas penginapan dan hostel sudah ada sejak lama. Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, ia sering kali melihat wanita berpakaian seksi. Sedangkan setiap malam, ada aktivitas keluar masuk orang luar Medang Lestari yang menginap dan menjemput wanita-wanita yang ada di kosan atau pun penginapan sekitar perumahan.

Aksi yang dilakukan warga dengan memasang spanduk, bukan kali pertama. Hari mengaku, sebelumnya warga pernah melakukan hal yang sama tetapi tidak ada penindakan tegas terkait keluhan warga.

“Kemarin kami sudah musyawarah dengan pihak kelurahan untuk menurunkan spanduk yang terpasang. Setelah itu, pekan depan akan ada pembahasan lagi bersama delapan pengurus RW yang di lingkungannya terdapat kos-kosan atau penginapan,” tutur pria berkacamata itu.

Hari berharap, tuntutan warga Medang Lestari yang tergabung dalam FOKM4L dapat dilakukan sesuai harapan. Yakni, kosan dan penginapan ditertibkan agar tidak ada lagi perzinahan.

“Kami tetap ingin ada kelanjutannya. Kami tidak melarang orang berusaha. Kami ingin lanjut demi Medang Lestari. Usaha boleh tapi jangan sampai masyarakat resah. Jangan sampai melanggar norma-norma yang menurut masyarakat tidak pantas,” tandas Hari. (Wvyh/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.