Dibalut APD Lengkap, Dokter Siti Noviyanti Yakin Covid-19 Segera Berlalu dari Banten

  • Whatsapp
tim medis covid-19
Dokter Siti Noviyanti meminta masyarakat untuk menjalankan anjuran pemerintah demi memutus rantai covid-19.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Masa pandemi covid-19 tidak bisa dipisahkan dari tim medis. Begitu berat tugas tim medis. Karena menjadi garda terdepan penanganan pandemi corona virus disease atau covid-19 yang melanda Indonesia bahkan dunia.

Kisah mereka untuk mengajak masyarakat agar optimis pandemi akan berlalu. Sebagai garda terdepan mereka harus memastikan pasien tertangani dengan baik, tetapi juga harus memikirkan keselamatan mereka sendiri.

Bacaan Lainnya

Alat pelindung Diri (APD) menjadi wajib bagi para tim medis yang menangani pasien covid-19,  seluruh tubuh harus dilindungi, mulai kepala, wajah, baju, sarung tangan dan pelindung kaki.

Inipun dialami Siti Noviyanti (27), seorang tim medis covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten.

Ia bercerita tentang tugsanya dengan nada tak mengisaratkan lelah, bahkan optimis terus berjuang meski harus merasa tidak nyaman kala pertama kali menggunakan APD saat bertugas.

“Selama 6 jam pakai APD ingin buru-buru dicopot, harus menahan buang air kecil,” kata Siti Noviyanti saat berbincang bersama Komunitas Jurnalis Lecture di Kota Serang, Kamis (15/5/2020) malam.

Saat ini, dokter muda itu mengaku bersyukur karena APD mulai memadai. Baginya, pemberitaan media massa, khususnya terkait persediaan APD pada awal-awal masa pandemi covid-19 cukup membantu tim medis untuk terus bekerja demi kemanusiaan. “Sekarang APD sudah banyak,” imbuhnya.

Dai juga mengaku merasa kesal dengan warga yang masih saja mengabaikan anjuran pemerintah terkiat protokol kesehatan penanganan covid-19, dalam hal ini social dan physical distancing. Namun ia menyadari mengedukasi masyarakat untuk peduli kesehatan tidaklah mudah.

“Pertama kmai ingin ngasih tahu ada wabah yang berbahaya, taruhannya nyawa, jadi harus berhati-hati. Harus dikasih tahu efeknya baru didengerin,” ujarnya.

Siti mengaku sempat mengalami fase lelah untuk bagaimana menyadarkan masyarakat agar tetap di rumah saja menerapkan protokol kesehatan covid-19. “Jujur kami mengalami fase lelah. Kami sudah koar-koar buat di rumah aja, butuh penanganan, karantina, tapi banyak masyarakat yang abai dengan virus ini,” ungkapnya.

Para medis covid-19 perempuan yang punya anak dinilai paling dilematis. Seorang perempuan biasanya mengurus anak, bahkan Siti kerap mendapat curhatan dari temennya terkiat anak-anaknya di rumah. Kala pertama bertugas di penanganan covid-19, kata dia, harus minta izin ke anak-anak dan suami.

“Mereka curhat bagaimana yah anak saya, nanti nanyain mamahnya, terus pulang juga dia khawatir membawa virus. Jadi dilematis,” ceritanya. Kalau rindu keluarga, kata dia, bisa dilampiaskan melalui telepon video. “Kami berusaha sabar mengahdapi kondisi seperti ini,” imbuhnya.

Siti Noviyanti merasakan kecemasan keluarganya terhadap dirinya. Disisi lain ia harus meyakinkan keluarga bahwa dirinya sehat. Seiring berjalannya waktu kehawatiran keluarganya mulai berkurang.

“Di RSUD banten kami dijamin. Harus bisa meyakinkan keluarga kami baik-baik saja,” kata anak bungsu dari 7 bersaudara itu.  Siti Noviyanti percaya pandemi covid-19 akan berlalu dan masyarakat bisa kembali hidup normal. Itu yang memotivasinya untuk bertahan pada garda terdepan penanganan covid-19, khususnya di Banten.(Adi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.