Di Jakarta Harga Jengkol Dua Kali Daging Ayam

  • Whatsapp
Jengkol - Jakarta

JAKARTA, REDAKSI.COM—Para penyuka semur jengkol di Jakarta tampaknya harus mengusap dada. Pasalnya, akhir-akhir ini harga jengkol di ibu kota  melambung tinggi tembus Rp 70 ribu/kg, dua kalipat lebih harga daging ayam.

Pedagang di pasar-pasar tradisional di Jakarta  menjual jengkol dengan harga berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu/kilogram. Harga ini melonjak  sebesar Rp 30 ribu dibanding bulan lalu.

Bacaan Lainnya

“Naiknya kelewatan mas, selain itu kirimannya (pasok-red) seret,”ungkap Masek, wanita paruh baya pedagang sayuran di  Pasar Minggu, Senin (20/07).

Menurutnya, harga jengkol mulai merayap selepas Lebaran lalu, dari harga Rp 40 ribu per kilogram yang kemudian terus merangkak. Bukan itu saja, lanjut wanita asal Tegal Jawa Tengah ini, dalam sebulan terakhir pasokannya juga langka.

“Sekarang sudah Rp 70 ribu untuk jengkol tua yang besar-besar, jual segitu gak bisa kurang. Kalau yang muda buat lalap Rp 80 ribu, tapi jarang-jarang adanya, peminatnya pun kurang,”tutur pedagang yang buka lapak dekat jalur angkot di Pasar Minggu ini.

Ratmi, pedagang lain, mengatakan, dirinya menjual jengkol Rp 60 ribu – Rp 65 ribu/kg. “Emang agak kecil, tapi kalau yang besar-besar sih Rp 70 ribu,”jelasnya.

Masek dan Ratmi mengaku mendapatkan  jengkol dari pemasok yang mengambil jenis komoditas itu dari Pasar Induk Kramat Jati. “Kalau beli langsung ke sana ongkosnya juga lumayan, mending kita beli di sini saja,”imbuh Masek.

Tak pelak, tingginya harga jengkol ini memukul para penjual nasi uduk. Karena tak sedikit orang yang lahap menyantap nasi uduk apabila ada tambahan lauk semur jengkol.

“Repot kita, karena harganya yang tinggi,  dua kali lipat  daging ayam. Saat ini saja daging ayam di pasar ini yang biasa harganya  cuma Rp 24 ribu/ kg.  Tapi kalau kualitas yang sering dijual buat  i warung pecel lele atau atau soto harganya antara Rp 28 ribu – 35 ribu,”ujar Mulyati, pemilik warung nasi uduk dan soto di dekat terminal Pasar Minggu.

Menurut Mul, demikan dia disapa, dirinya sebulan ini menjual nasi uduk tanpa  tambahan  semur jengkol lantaran harga jengkol sudah tak terjangkaunya lagi.

“Lauknya semur tempe atau tahu, bisa juga ayam goreng atau bihun. Kalau maksain ada semur jengkol, ya pasti sedikit. Lagi pula apa kita harus naikan harga nasi uduk karena harga jengkolnya selangit, bisa berabe, pembeli nanti protes atau ngedumel, terus kita kehilangan langganan,”katanya.(Agung/Jaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.