Dewan Sebut Pendidikan di Kabupaten Tangerang Memprihatinkan

oleh -
Dewan Sebut Pendidikan di Kabupaten Tangerang Memprihatinkan
Pejabat Dinas Pendidikan (Dindik) dan stakeholder terkait di Kabupaten Tangerang, kata Kholid, tidak becus dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi) untuk memajukan pendidikan di daerah seribu industri ini.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Banten, Kholid Ismail menyebut dunia pendidikan di daerah pimpinan A Zaki Iskandar ini kondisinya masih memprihatinkan.

Pejabat Dinas Pendidikan (Dindik) dan stakeholder terkait di Kabupaten Tangerang, kata Kholid, tidak becus dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi) untuk memajukan pendidikan di daerah seribu industri ini.

Buktinya, angka anak putus sekolah di Kabupaten Tangerang saat ini jumlahnya tertinggi di Provinsi Banten.

Penilaian itu disampaikan Kholid Ismail dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) atau hearing mengenai tingginya angka putus sekolah dengan Komisi II DPRD dan Dindik Kabupaten Tangerang, Rabu (10/8/2022).

BACA JUGA: Dewan Heran Angka Putus Sekolah di Kabupaten Tangerang Tinggi

Kholid Ismail mengungkapkan pendidikan di Kabupaten Tangerang kondisinya cukup memprihatinkan. Padahal, kata Kholid, anggaran yang dialokasikan untuk sektor pendidikan memiliki angka cukup besar, yakni 17% dari total APBD Kabupaten Tangerang.

“Jadi selama ini Dinas Pendidikan ngapain aja? Sedangkan APBD yang terserap untuk pendidikan sangat besar,” tanya Kholid.

Kholid menegaskan, kondisi pandemi COVID-19 pada beberapa waktu lalu jangan selalu dijadikan alasan tidak maksimalnya Dindik dalam mencapai target-target pendidikan yang telah ditentukan pemerintah daerah.

“Kondisi COVID-19 jangan selalu dijadikan alasan Dindik tidak bisa mencapai target,” ungkapnya.

BACA JUGA: Miris, Anak Putus Sekolah di Kabupaten Tangerang Tertinggi se-Banten

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang, Nasrullah Ahmad menambahkan, Dindik seharusnya meminta klarifikasi terkait tingginya angka putus sekolah yang tercatat di Pusdatin Kemendikbud RI kepada Kemendikbud RI

Lanjutnya, untuk dapat menjelaskan data tersebut, seharusnya seluruh stakeholder terkait dapat saling bersinergi, bukan saling melempar tanggung jawab.

“Ya memang data putus sekolah ini harus dibantah dengan data lagi, tanpa data penjelasan Dindik itu cuma cerita atau omong kosong,” kata Nasrullah.

Nasrullah menuturkan, desakan Komisi II kepada Dindik untuk dapat menjelaskan data tingginya putus sekolah ini merupakan upaya bersama dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Kabupaten Tangerang.

“Ya maka itu, hari ini semua berkumpul mencari solusi agar kualitas pendidikan di Kabupaten Tangerang bisa lebih baik,” jelasnya.

BACA JUGA: Angka Putus Sekolah di Kabupaten Tangerang Tinggi, Pejabat Dindik Salahkan Pandemi

Sementara itu, Sekretaris Dindik Kabupaten Tangerang, Fahrudin mengaku telah membentuk tim khusus Dapodik untuk menelusuri tingginya angka putus sekolah yang tercatat di Pusdatin Kemendikbud.

“Kami akan melakukan edukasi kepada operator Dapodik (data pokok pendidikan) pada setiap satuan pendidikan agar tidak kehilangan data,” tuturnya.

Sebab, kata Fahrudin,  berhentinya anak usia sekolah memiliki beberapa instrumen. Diantaranya, mutasi, pengunduran diri, berhenti dan hilang. Maka itu, lanjutnya, pihaknya akan bersinergi dengan kementerian agama guna mencocokan Dapodik dengan Education Management Information System (EMIS).

“Kami sudah melakukan MoU dengan Kemenag, bahkan Dukcapil untuk menelusuri data angka putus sekolah ini,” tandasnya.(Deri/Difa)