Dewan Pendidikan Banten Sesalkan Tawuran Pelajar Jadi Tontonan

oleh -
Tawuran pelajar.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM — Dewan Pengawas Pendidikan Provinsi Banten mengutuk keras aksi tawuran yang dilakukan oleh para pelajar SMP di Tigaraksa yang videonya viral di masyarakat.

Terlebih, dalam aksi tidak terpuji itu ada seorang pelajar yang menjadi korban tewas saat tawuran tersebut pecah di Kawasan Olek, Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Kamis (28/11/2019) lalu.

Anggota Dewan Pengawas Pendidikan Provinsi Banten, Eni Suhaeni saat dihubungi mengungkapkan rasa keprihatinannya atas aksi tawuran yang dilakukan oleh para pelajar SMP tersebut. Dan dewan pendidikan mengutuk keras tindakan yang dilakukan oleh para pelajar pada saat aksi tawuran itu terjadi.

“Ada yang salah dalam pendidikan kita terutama soal bagaimana membentuk karakter para pelajar, ini sudah bisa dibilang liar tidak ada nilai-nilai pendidikan,” cetusnya kepada Redaksi24.Com

Ia melanjutkan, peristiwa memilukan tersebut menjadi PR bagi pihak sekolah dan para orang tua agar lebih ekstra dalam memantau anak-anaknya baik pada saat jam sekolah maupun di luar jam sekolah. “Anak-anak menjadi tanggung jawab sekolah di situasi jam belajar dan fungsi orang tua di luar jam sekolah, harus saling memantau agar anak tidak liar,” tuturnya.

Ia juga menyesalkan peristiwa kekerasan dikalangan siswa SMP itu dijadikan tontonan oleh masyarakat yang ada di lokasi kejadian. Kata dia, harusnya warga yang melihat aksi tawuran tersebut mencoba untuk melerai atau melaporkannya kepada pihak kepolisian bukan justru merekamnya menggunakan handphone.

“Harusnya jangan dibiarkan dan divideokan, akhirnya menjadi tontonan dan seolah kekerasan para pelajar ini dijadikan konsumsi untuk ditonton,” ujarnya.

BACA JUGA:

Viral: Tawuran Antar Pelajar SMP Tigaraksa 1 Orang Tewas

Keluarga Korban Tewas Tawuran Antar SMP Minta Semua Pelaku Ditangkap

Menurutnya, anak-anak usia SMP merupakan anak yang tengah berada dalam tahap mencari figur untuk ditiru. Perkembangan teknologi yang begitu cepat serta banyaknya aksi kekerasan di media sosial, menjadi salah satu faktor para pelajar tersebut untuk menunjukan kehebatannya melalui aksi kekerasan seperti yang mereka serap di media sosial.

“Media sosial paling gampang untuk menyerap aksi kekerasan, selain itu juga pengaruh lingkungan dan keluarga yang membuat anak-anak ini menjadi liar,” katanya.

Ia juga menyarankan kepada pihak sekolah yang siswanya terlibat dalam aksi tawuran agar duduk bersama untuk mencari solusi supaya kejadian tersebut tidak terulang kembali. “Jangan sampai nanti dua sekolah ini malah bermusuhan dan menjadi musuh bebuyutan,” pungkasnya (Ricky/Aan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *