Dangkal dan Menyempit, Kades Jengkol Minta PUPR Keruk Sungai Gembong

oleh -
Dangkal dan Menyempit, Kades Jengkol Minta PUPR Keruk Sungai Gembong kabupaten tangerang normalisasi sungai
Aliran Sungai Gembong saat ini tersumbat sedimen lumpur dan tanaman liar sehingga terjadi pendangkalan. Kondisi itu menghambat sistem pengairan ke area persawahan warga di desa tersebut.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Pemerintah Desa Jengkol, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, meminta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengairan Kabupaten Tangerang dan Balai Pengairan Provinsi Banten untuk segera melakukan normalisasi Sungai Gembong.

Pasalnya, aliran Sungai Gembong saat ini tersumbat sedimen lumpur dan tanaman liar sehingga terjadi pendangkalan. Kondisi itu menghambat sistem pengairan ke area persawahan warga di desa tersebut.

Kepala Desa (Kades) Jengkol, Gandi mengatakan, tersumbatnya aliran Sungai Gembong saat ini terkesan dibiarkan dan tak tersentuh program normalisasi. Buktinya, kata dia, terjadi pendangkalan, ditambah banyaknya tanaman liar yang menjadi semak-semak di aliran sungai tersebut.

“Akibatnya sawah para petani tidak bisa mendapatkan suplai air secara maksimal. Kami meminta Kementerian PUPR segera melakukan pengerukan lumpur sungai,” kata Gandi kepada wartawan, Rabu (1/12/2021).

Gandi mengaku sebagian besar warganya berpenghasilan dari bertani. Karena itu, dia meminta Pemerintah Kabupaten Tangerang maupun Provinsi Banten segera menormalisasi Sungai Gembong dan Sungai Ceplak.

“Dahulu lebar Sungai Gembong 8 meter, sekarang jika terlihat cuma sekitar 2 meter,” ungkapnya.

BACA JUGA: Anggota DPRD Kabupaten Tangerang Dilaporkan ke Polisi

Ketua Umum LSM Geram Banten yang juga aktivis lingkungan, Alamsyah mengaku banyak petani mengeluh karena lahan persawahannya tidak mendapatkan suplai air dari Sungai Cidurian hulu.

Dia menyebut anak Sungai Cidurian yang melintas di Desa Gembong, Sukamulya dan Ceplak, kondisinya tidak terawat dengan baik, sehingga menjadi sempit dan dangkal.

“Bisa dilihat sendiri kondisi sungainya saat ini dipenuhi semak-semak dan tidak nampak seperti sungai lagi,” ujar Alamsyah.

Dia mendesak Kementerian PUPR melalui BBWS C3 segera melakukan pengerukan terhadap kedua sungai tersebut. Sebab lahan persawahan di Kecamatan Jayanti, Balaraja, Sukamulya dan Kresek sangat bergantung kepada kedua sungai tersebut.

“Bagaimana mau mendapatkan air jika sungainya saja sudah hampir rata dengan badan jalan. Seharusnya Pemkab Tangerang segera menyurati balai besar untuk melakukan pengerukan,” tegasnya.

Dikatakan dia, jangan karena bukan kewenangannya sehingga Pemkab Tangerang terkesan masa bodo. Sebab kedua sungai itu berada di Kabupaten Tangerang dan yang dirugikan pun masyarakat Kabupaten Tangerang.

“Bagaimana panen bisa produktif jika airnya saja sulit sehingga harus menunggu hujan,” tandasnya.(RM1/Difa)

No More Posts Available.

No more pages to load.