Dampak Pemadaman Listrik, HABIS TERANG TERBITLAH  GELAP

oleh -
ilustrasi, sutet

IBARAT  kembali ke ‘Zaman Batu’, separuh lebih daerah Jawa Barat, Banten dan wilayah Jabodetabek gelap gulita, Minggu (04/08/2019). Pasalnya, jutaan penduduk terpadat di negeri ini tak teraliri listrik akibat terjadi ganguan disejumlah transmisi di Pulau Jawa milik satu-satunya perusahaan pelat merah yang ngurusi perlistrikan, yakni PLN.

Tentu dampak yang ditimbukan tidaklah sederhana, masyarakat kadung tergantung kebutuhan hidupnya pada ketersediaan tenaga listrik. Bukan saja untuk penerangan, namun kebutuhan lainnya, untuk mesin cuci, mesin pompa air misalnya, hingga untuk menambah daya batre hand phone sebagai alat komunikasi, bisnis dan untuk segala urusan tetek bengek itu perlu isian tenaga listrik.

Di Kampung Tanjung, Desa Panacaran. Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang dua unit rumah warga milik Saleh (75) dan Warsa (40) ludes terbakar saat terjadi pemadaman listrik, untungnya tidak ada korban jiwa, hanya kerugian ditaksir hingga puluhan juta rupiah. Kobaran api sendiri muncul dipicu lampu totok (lampu zaman dulu sebelum ada listrik masuk kampung) yang tertendang Saleh yang penglihatannya sudah terganggu karena lanjut usia.

Sementara, di Kampung Pasir Sukarayat, Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, warga rebutan air bersih, lantaran seluruh warga tersebut menggunakan fasilitas saluran air bersih (SAB), tidak lagi menggunakan pasokan air dari  perusahaan daerah air minum (PDAM), dan lagi-lagi itu terjadi saat pemadaman listrik Minggu kemarin.

Lalu, padamnya listrik juga membuat para pengemudi Ojek Online (Ojol) sepi order dari calon penumpang. Para Ojek berbasis aplikasi ini tentu sangat tergantung pada tersedianya layanan internet, dan jaringannya lenyap gara-gara ya tadi itu, listriknya mati. “Mati lampu jadi susah sinyal, gak ada jaringan internet juga jadi gak ada yang bisa order,” kata Soni Setiawan, driver Ojol yang biasa beroperasi di sekitar wilayah Citra Raya, Kabupaten Tangerang, Minggu (04/08/2019).

Belum lagi, gangguan pada sistem pembangkit listrik atau Black Out ini berdampak kepada beberapa layanan umum, salah satunya layanan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Rangkasbitung. Kepala Stasiun (KS) Rangkasbitung Gun Gun Adi Nugraha mengatakan, akibat pemadaman listrik tersebut pelayanan KRL rute Rangkasbitung-Tanah Abang, dan sebaliknya terganggu. ” Akibat adanya pemadaman listrik, KRL tidak dapat dioperasikan,” Ujar Gun Gun.

Bahkan nasib naas dialami Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, akibat pemadaman listrik, Zaki sampai dibilang budeg sama warganya yang mengirim pesan lewat whatshap. “Pak Bupati warga panik listrik mati…!! bales dong whatshap saya budeg apa,” begitulah isi pesan dari warganya.

Pagi-pagi saat membuka hand phone, karuhan Zaki pun mengeryitkan dahi, lantaran dia pun nasibnya sama yaitu terdampak pemadaman listrik, hingga telpon selulernya mati habis batre. ” Puguhan whatshap saya juga mati baru aktip tadi pagi,” ungkap Bupati Zaki, diiringi tawa peserta apel pagi  di Lapangan Maulana Yudha Negara, Puspemkab, di Tigaraksa, senin (05/08/2019).

PLN minta maaf

Executive Vice President Corporate Communication & CSR PLN I Made Suprateka secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya pemadaman listrik akibat gangguan pada sejumlah pembangkit di Jawa.

Dijelaskan, Gas Turbin 1 sampai dengan 6 Suralaya mengalami  trip, sementara Gas Turbin 7 saat ini dalam posisi mati (Off). Selain itu Pembangkit Listrik Tenaga Gas Turbin Cilegon juga mengalami gangguan atau trip. “Kami mohon maaf sebesar-besarnya untuk pemadaman yang terjadi, saat ini upaya penormalan terus kami lakukan, bahkan beberapa Gardu Induk sudah mulai berhasil dilakukan penyalaan” katanya.

Alangkah mudah dan seringnya para petinggi di negeri ini meminta maaf, setelah gagal mengemban tugas. Mestinya mereka tidak cukup hanya meminta maaf, namun secara kesatria mundur dari jabatannya lantaran gagal. Bukankah ketersediaan tenaga listrik sudah merupakan kebutuhan suatu keniscayaan, dan tidak boleh terhenti hingga berjam-jam.

Dampaknya pasti luas, masyarakat kadung bergantung pada pasokan listrik dalam kehidupannya. Bukan saja masyarakat sudah merasa terbebani dengan membayar listrik yang mahal saat ini, namun juga terlalu merugi jika listrik harus padam berjam-jam layaknya ‘habis terang terbitlah gelap’. Begitu kan.

(Endang JP, Pimpinan Redaksi redaksi24.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *