Dampak Covid-19, Para Pengusaha Kedai Kopi Menjerit karena Alami Penurunan Omset

  • Whatsapp
Suasana salah satu kedai kopi di Ranhkasbitung.

LEBAK, REDAKSI24.COM – Menenggak secangkir kopi merupakan salah satu hobi sebagian besar masyarakat Indonesia. Karenanya pada pertengahan tahun 2000 an, para pebisnis muda nasional mulai melirik usaha tersebut sebagai usaha yang dapat menjanjikan, sehingga kedai-kedai kopi mulai bermunculan dari sabang sampai merauke.

Tidak terkecuali dengan Rangkasbitung yang merupakan Pusat kota di Pemerintahan Kabupaten Lebak. Kedai Kopi mulai bermunculan dan mampu menjaring pelanggan yang mayoritas kaum milenial.

Bacaan Lainnya

Namun, memasuki awal tahun 2020, usaha tersebut mulai suram. Para pengusaha kedai kopi menjerit lantaran omset mereka mengalami penurunan hingga hampir 100 persen, lantaran merebaknya wabah virus corona (Covid-19) yang berasal dari Wuhan, China.

Seperti yang dirasakan oleh Prastika Putri, Owner Kedai Kopi Dialogue di Jalan Abdi Negara, Rangkasbitung, Lebak, Banten. Ia menceritakan, sejak virus corona mewabah pada awal tahun 2020, tempat usahanya beransur sepi. Bahkan memasuki bulan ke empat atau April, omsetnyapun turun hingga mencapai 90 persen lebih, karena masyarakat memilih tinggal di rumah daripada keluar hanya sekedar konkow di kedai-kedai dan tempat lainnya.

” Iya mas, pusing nih. Kedai semakin hari sepi, omsetpun turun sampai 90 persen lebih,” kata dia.

Biasanya, tambah Prastika Putri, tiap hari omset mencapai Rp 1 juta. Tapi semenjak virus corona merebak, penghasilan hanya mendapat Rp 100 ribu, bahkan kadang kurang.

BACA JUGA:

Kereta Api Rangkasbitung-Merak di Lockdown, Pedagang Mengeluh

Dampak Corona, Ratusan Buruh Pabrik Sepatu di Lebak Dirumahkan

Senada pula dengan Wirya, Owner kedai Kopi Kawan. Ia mengaku, semenjak virus corona mewabah di Indonesia dan dibarengi pula dengan adanya imbauan dari pemerintah untuk membatasi setiap kegiatan yang menimbulkan keramaian. Kedai kopi yang dirintis sejak pertengahan tahun 2000 an lalu dan didirikan di Jalan RT Hardiwinangun, Rangkasbitung sepi, sehingga mengalami penurunan omset hingga mencapai 70 persen.

” Sebelum situasi seperti ini, omset kita mencapai Rp 3 juta setiap hari. Tapi, saat ini paling besar hanya Rp 900 ribu,” kata dia

Untuk mensiasati hal terburuk, katanya, ia mulai melakukan penjulan dengan sistem online, sehingga usahanya masih bisa bertahan. ” Selain usaha ini harus tetap berjalan, sistem online tersebut juga untuk mendukung upaya pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona, sehingga para pelanggan bisa mememasan via telpon dan tetap menunggu di rumah,” kata dia. (Yusuf/ Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.