Butuh Modal Besar, Bank Banten Terancam Bangkrut

  • Whatsapp
bank banten bangkrut
Ketua Komisi III DPRD Bantenb, Gembong R Sumedi.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Bank Banten kondisinya diambang kebangkrutan. Pemprov Banten selaku pemilik saham mayoritas harus segera mencairkan penyertaan modal yang dialokasikan pada APBD 2019. Jika tidak, kemungkinan besar Bank Banten benar-benar bangkrut.

Diselamatkan atau tidak, keduanya mempunyai konsekuensi masing-masing. Jika diselamatkan, butuh penyertaan modal tambahan yang lebih besar untuk menyehatkan anak perusahaan BUMD BGD itu. Sedangkan penyertaan modal yang ada hanya Rp131 miliar dari APBD 2019 yang belum dicairkan.

Bacaan Lainnya

Sedangkan pada APBD 2020, Pemprov Banten tidak memberikan sisa penyertaan modalnya karena sedang menunggu hasil rekomendasi dari OJK dan KPK agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

“Rekomendasi dari OJK itu diperkirakan akhir Nopember lalu, tapi sampai sekarang saya belum menerima hasil laporannya seperti apa dari Pemprov. Padahal sisa waktu penggunaan anggaran 2019 tinggal beberapa hari saja,” kata Ketua Komisi III DPRD Banten, Gembong R Sumedi, Selasa (10/12/2019).

BACA JUGA:

. Dewan Pertimbangkan Tawaran Rp1 Saham Bank Banten

. Bank Banten Tidak Dapat Jatah APBD 2020

. DPRD Banten Prihatin Dengan Perkembangan Bank Banten

Gembong beranggapan diberikan atau tidaknya penyertaan modal itu tidak akan mampu menyehatkan kondisi Bank Banten. Karena kini kondisinya sudah kronis stadium empat. Butuh suntikan modal yang besar dan Pemprov tidak akan mungkin bisa memberikannya karena terbentur aturan.

“Jika Pemprov masih ingin menyelamatkan Bank Banten, harus segera jemput bola. Hal-hal lain yang menjadi pertimbangan, segera diselesaikan, supaya Bank Banten bisa mendapatkan suntikan modal,” katanya.

Politisi PKS itu mengaku menyayangkan jika Bank Banten ini sampai bangkrut, hal itu mengingat sudah cukup besar APBD Banten yang digelontorkan untuk menyehatkan usahanya.

Dari amanah Perda, Pemprov Banten wajib memberikan penyertaan modal sebesar Rp950 miliar. Hingga kini yang sudah digelontorkan hampir mencapai Rp650 miliar.

Pihak Bank Banten sangat berharap sisa kewajiban penyertaan modal bisa terealisasi dalam APBD 2019 dan 2020. Namun hal itu urung dilakukan, mengingat kondisi usaha Bank Banten sedang tidak sehat.

“Sisa dana itu sebenarnya sangat kecil. Kalau pun diberikan hanya akan mampu memperpanjang usia Bank Banten untuk beberapa saat, tidak akan mampu memulihkan usahanya. Tapi disisi lain, ada jalan right issue yang bisa dilakukan para direksinya. Hal ini tentu akan menambah suntikan dana yang diterima, sehingga diharapkan akan mampu menstabilkan kondisi usaha Bank Banten,” harapnya.

Right issue, lanjut Gembong, bisa dilakukan jika ada modal aman sebesar Rp300 miliar yang berasal dari sisa penyertaan modal Pemprov Banten. Namun jika Pemprov menghentikan sementara penyertaan modalnya, akan sangat berat bagi direksi untuk melakukan right issue.

Jalan lain yang bisa dilakukan adalah mempertimbangkan sesegera mungkin tawaran Rp1/lembar saham Bank Banten yang dilakukan Chairul Tanjung (CT). Meskipun CT sendiri pasti akan mempertimbangkan dengan matang dan mempunyai beberapa persyaratan untuk ikut menyehatkan Bank Banten, namun ia mengaku siap menggelontorkan dananya untuk menyehatkan Bank Banten.

“Tapi itu tergantung Pemprov. Jika kebijakan itu dirasa tepat, maka segera lakukan kajian dan jemput bola. Kajian itu perlu dilakukan mengingat tawaran ini sangat rendah, dikhawatirkan ada permainan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar,” katanya. (Luthfi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.