BPS Rilis Ekonomi Banten Tahun 2020 Anjlok 3,38 Persen

  • Whatsapp
Ekonomi, Banten,BPS,turun,tahun,2020,rilis,Anjlok,triwulan
Kawasan Puspem Provinsi Banten- istimewa.

JAKARTA, REDAKSI24.COM– Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, Jumat (5/2/2021) merilis, ekonomi Banten tahun 2020 turun 3,38 persen, dibanding capaian Tahun 2019 yang tumbuh 5,29 persen.

Dikutip dari laman banten.bps.go.id, BPS Banten menyebut perekonomian Banten Tahun 2020 yang diukur berdasarkan Produk Domestk Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 626,44 Triliun dan PDRB Perkapita mencapai Rp 47,6 Juta atau US$ 3.270,13.

Bacaan Lainnya

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,14 persen. Dari sisi pengeluaran, kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada Komponen Total Net Ekspor sebesar 22,71 persen.

Ekonomi Banten triwulan IV-2020 dibanding triwulan IV-2019 turun 3,92 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, beberapa lapangan usaha masih tumbuh positif dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 12,33 persen.

Dari sisi pengeluaran, kontraksi pertumbuhan terdalam terjadi pada Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 22,56 persen.

Ekonomi Banten triwulan IV-2020 dibanding triwulan III-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 3,01 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh sebagian besar lapangan usaha yang tumbuh positif dengan pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 14,87 persen.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 17,61 persen.

Struktur perekonomian Provinsi se-Jawa pada Triwulan IV-2020 masih didominasi oleh Provinsi DKI Jakarta yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto se-Jawa sebesar 30,34 persen, kemudian diikuti oleh Provinsi Jawa Timur sebesar 24,68 persen, Provinsi Jawa Barat sebesar 22,28 persen. Dan Provinsi Banten memberikan kontribusi sebesar 6,82 persen.

Ekonomi Nasional

Sementara itu, Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (5/2/2021) mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus untuk pertama kali sejak 1998, setelah ekonomi Indonesia pada 2020 terkontraksi 2,07 persen (yoy).

“Kalau 1998 karena krisis moneter, pada 2020 ekonomi mengalami kontraksi karena pandemi COVID-19,” kata Suhariyanto.

Menurut Suhariyanto, sebagian besar perlambatan ekonomi di 2020 ini juga dialami negara-negara lain di dunia karena imbas pandemi COVID-19 yang sangat masif.

Kata dia, data statistik terbaru yang memperlihatkan pertumbuhan ekonomi negatif di berbagai negara seperti Amerika Serikat yang minus 3,5 persen, Korea Selatan minus satu persen, dan Uni Eropa minus 6,4 persen.

“Banyak negara-negara yang mengalami kontraksi, pengecualian hanya di China dan Vietnam yang tumbuh positif masing-masing 2,3 persen dan 2,9 persen,” ujar Suhariyanto. (Endang JP)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.