BEI Banten Ajak Warga Ikut Gerakan Nabung Saham

  • Whatsapp
Kepala Kantor BEI Provinsi Banten, Fadly Fatah mengajak warga untuk ikut dalam gerakan nabung saham.

REDAKSI24.COM – Nabung saham tidak hanya bisa dilakukan orang-orang berduit. Masyarakat biaya yang minim modal kini bisa mencari Cuan lewat gerakan Yuk Nabung Saham (YNS). Gerakan YNS merupakan kampanye yang diselenggarakan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengajak masyarakat sebagai calon investor berinvestasi di pasar modal dengan membeli saham secara rutin dan berkala.

Gerakan ‘gotong royong’ ini bermaksud untuk mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia, dari kebiasaan menabung menjadi berinvestasi. Sehingga masyarakat Indonesia mulai bergerak dari saving society menjadi investing society.

Bacaan Lainnya

“Beli saham sekarang mudah dan murah. Dengan modal awal Rp5.000 pun masyarakat sudah bisa membeli saham,” ujar Fadly Fatah, Kepala Kantor BEI Provinsi Banten, Senin (19/8/2019)

Menurut Fadly, masyarakat kini dipermudah dengan penurunan jumlah minimal dalam satu lot saham yang akan dibeli. Kalau dulu, sebelum ada gerakan YNS, dalam satu lot saham berjumlah 500 lembar saham. Namun kini diperkecil menjadi 100 lembar saham dalam satu lot-nya.

“Bank Banten Contohnya. Di BEI, harga perlembar sahamnya Rp50. Dengan modal Rp5.000, sudah bisa membeli satu lot. Kami sudah punya saham di situ. Namun tentu, nilai deviden yang diterimanya juga tidak terlalu besar, tergantung hasil usaha,” ujarnya.

BACA JUGA:

. Apartemen Aspena Kota Tangerang Bidik Aparatur Sipil Negara

. Bangun Project Corral @ Malibu Village Gading Serpong, Paramount Raih Penghargaan Properti di PIA 2019

. Tim Gabungan Tutup Penambangan Emas Ilegal di TNGHS

Pada tahun 2019 ini, lanjut Fadly, nilai piutang Bank Banten mencapai RPp1 triliun, naik dari sebelumnya sekitar Rp809 miliar. “Nilai piutang juga harus menjadi pertimbangan dalam memilih perusahaan yang akan dituju. Jangan sampai, ketika masuk perusahaan tersebut, malah keluar dari BEI lantaran bangkrut atau yang lainnya,” katanya.

Jumlah Pendapatan Domestik Bruto (PDB) secara nasional pada tahun 2016 mencapai 1 triliun USD atau sekitar 1 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Hal ini tentu dampak dari positif dari gerakan YNS. Pendapatan itu jauh dari target ideal yakni 30 persen.

Negara tetangga seperti Malaysia mencapai 14 persen dan Singapura 4 persen. Perputaran uang di BEI cukup besar. Tercatat untuk Indonesia dengan jumlah investor yang masih sangat sedikit, transaksi perharinya mencapai Rp10 triliun, sedangkan Singapura mencapai Rp15 triliun/hari, Thailand Rp17 triliun/hari dan Amerika Serikat (AS) sebesar Rp870 triliun/hari.

“Kalau di Indonesia, RUPS itu menggunakan aula hotel juga cukup, tapi kalau di AS, itu di stadion lapangan bola. Udah kaya pesta rakyat tahunan,” katanya.

Saham Bir Bintang Masih Jadi Primadona

Pergerakan saham perusahaan bir bintang, Multi Bintang Indonesia, Tbk masih menjadi primadona. Nilai deviden per tahun 2014 mencapai Rp46.076/lembar sahamnya. Berdasarkan data Annual Report 2018 yang bersumber dari Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah kepemilikan saham publik dibawah 5 persen selama tahun 2018 mencapai 18,2 persen.

Untuk kepemilikan saham perorangan mencapai 35,064,800 lembar saham dari target yang dialokasikan para tahun 2018 sebesar 35,426,200 lembar saham. Harga perlembar sahamnya sebagaimana tercatat dalam BEI sebesar Rp18.600/lembar.

Pada posisi kedua ada perusahaan Delta Jakarta Tbk. Penjualan bersih perusahaan minuman rendah alkohol itu naik 15% dibanding tahun 2017 menjadi Rp893,0 miliar yang diikuti kenaikan laba bersih sebesar 20% menjadi Rp338,1 miliar

Di BEI, perusahaan minuman dengan merek dagang Anker itu, tercatat menjual sahamnya sebesar Rp5.500/lembar, dengan nilai deviden pertahun 2014 mencapai 12.000/lembar saham.

Kepemilikan saham diatas 5 persen perusahaan ini didominasi perusahaan asing sebesar 58,33 persen atau 467.061.150 lembar saham, pemerintah hanya memiliki 26,25 persen atau 210.200.700 lembar saham.

Sedangkan kepemilikan saham perorangan mencapai 3,36 persen atau 26.913.900 lembar yang dimiliki oleh 532 orang investor. (Luthfi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.