Bea Cukai Sita 1,7 Juta Batang Rokok Ilegal Dari Tangerang

  • Whatsapp
Farobi menyatakan DJBC Banten menyita 1.700.000 rokok illegal di tangerang
Petugas Kanwil Bea Cukai Banten saat melakukan penindakan terhadap truk yang membawa rokok ilegal di Tangerang, Banten, belum lama ini.

JAKARTA, REDAKSI24.COM— Kepala Kantor Wilayah DJBC (Direktorat Jenderal Bea dan Cukai) Banten, Alflah Farobi, menyatakan, pihaknya melakukan penindakan dan menyita 1.700.000  juta batang rokok ilegal berbagai merk di Tangerang yang berpotensi merugikan negara senilai Rp818,6 juta.

Dalam ketarangan pers di Jakarta, Sabtu, Farobi menyebutkan, penindakan itu merupakan hasil operasi yang digelar DJBC Banten di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang.

Bacaan Lainnya

“Dari operasi ini secara keseluruhan, nilai barang yang ditindak sekitar Rp1,7 miliar dengan kerugian negara yang timbul kurang lebih sebesar Rp818,6 juta,” ungkap Farobi.

Penyitaan barang ilegal itu berasal dari dua kasus yang terjadi pada Senin (21/9) dan Rabu (23/9).

Kasus pertama, menurut dia, penindakan atas truk Asal Jawa Timur tujuan Lampung di Rest Area KM 13,5 Tol Jakarta-Merak, Karang Tengah, Kota Tangerang, Tim Penyidik dan Penindak menyita 746.000 batang rokok tanpa pita cukai berbagai merek

Kasus kedua terjadi dua hari berselang, dengan modus yang hampir serupa, penyitaan  dilakukan kepada truk asal Malang tujuan Kuala Tungkal dengan tujuan akhir Batam, di Rest Area KM 42,5 di Tol Jakarta-Merak, Balaraja, Kabupaten Tangerang, petugas menyita rokok illegal berjumlah 984.000 batang rokok yang tidak dilekati pita cukai.

“Seluruh barang bukti rokok tersebut dibawa ke kantor DJBC Banten, sementara supir truk dimintai keterangan untuk pengembangan kasus,”ujar Farobi.

Untuk pengembangan kedua kasus ini, Kanwil DBJC Banten akan bekerja sama dengan Kantor Bea Cukai di Jawa Timur.

Pelaku peredaran rokok ilegal dapat dijerat dengan Pasal 54 dan/atau 56 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

“Ancaman pidana yang dapat dikenakan paling singkat satu tahun dan paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling sedikit dua kali nilai cukai dan paling banyak 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar,”punkas Farobi. (Satyagraha/Ant/Jaya)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.